Support From West Melanesia Independence For Free West Papua, Maluku, and Flores. Diberdayakan oleh Blogger.
Hai, Anak Muda Melanesia Barat, Membaca & Menulislah ! " Jika umurmu Tak Sepanjang Umur Bumi, Sambunglah Dengan Tulisan " !
Tampilkan postingan dengan label Clumps Melanesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Clumps Melanesia. Tampilkan semua postingan

, , , ,

NTT Jadi Pusat Kajian Melanesia

Melanesia merupakan ras yang umumnya berkulit gelap, rambut ikal, kerangka tulang besar dan kuat, serta profil tubuh atletis.

NTT Jadi Pusat Kajian Melanesia
Masyarakat adat Molo, Timor Tengah Selatan NTT, melakukan ritual di tanah wilayah adatnya yang dikelola bersama-sama. (Feri Latief)

Keberadaan bangsa ras Melanesia beserta kebudayaannya sedang berusaha dikuak. Manusia dengan ras Melanesia umumnya mendiami sejumlah provinsi bagian timur Indonesia, yakni Nusa Tenggara Timur, Papua, Papua Barat, Maluku, dan Maluku Utara. Bahkan, Nusa Tenggara Timur diproyeksikan menjadi pusat kajian Melanesia di Indonesia.

Hal tersebut mengemuka dalam konsultasi publik tentang Melanesia di Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Nusa Tenggara Timur (NTT), di Kupang, Rabu (18/2). Pertemuan yang dipandu Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga NTT Pieter Manuk itu melibatkan akademisi, budayawan, dan pejabat terkait kebudayaan.

Melanesia merupakan ras yang umumnya berkulit gelap, rambut ikal, kerangka tulang besar dan kuat, serta profil tubuh atletis. Konsultasi publik tersebut bertujuan mengumpulkan beragam masukan untuk menyongsong penyelenggaraaan Festival Melanesia Internasional di Kupang, Oktober mendatang.

"Festival itu menurut rencana diikuti perwakilan dari delapan negara ras Melanesia," ujar Pieter Manuk. Selain di bagian timur Indonesia, ras Melanesia menjadi populasi mayoritas sejumlah negara di Pasifik Selatan, seperti Papua Niugini, Fiji, Kepulauan Salomon, Vanuatu, Kaledonia Baru, Palau, dan Timor Leste.
"NTT diproyeksikan menjadi pusat kajian Melanesia di Indonesia. NTT, yang kini berpenduduk 4,6 juta jiwa mayoritas ialah ras atau campuran Melanesia. Proyeksi itu secara lisan sudah disetujui Kementerian Luar Negeri Indonesia," tutur Leo Nahak, yang merupakan mantan Kepala Museum NTT.

Dia juga mencatat, sejumlah ritual dan tarian rakyat, seperti Tari Perang di NTT, mirip dan masih bertahan di Papua Niugini, Fiji, Kepulauan Salomon, atau negara ras Melanesia lainnya.
(ANS/Kompas)
Publisher: MELANESIA POST - 20.20
, , , , , ,

Festival Budaya Melanesia Digelar di Kupang Bulan Oktober 2015

Festival Budaya Melanesia Digelar di Kupang Bulan Oktober
Kepala Dinas P dan K Provinsi NTT, Petrus Sinun Manuk,Foto List

KUPANG. NTTsatu – Setelah penandatangan Deklarasi Melanesia di Papua, Jumat 1 Mei 2015 mendatang, direncanakan akan digelar Festifal Melanesia di Kupang pada bulan Oktober 2015 mendatang.
Kepala Dinas P dan K Provinsi NTT, Petrus Sinun Manuk didampingi Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Archeologi, Leonardus Nahak yang ditemui di Kupang, Senin, 27 April 2015 mengatakan, penandatangan deklarasi di Papua itu akan dihadiri oleh Gubernur NTT, Frans Lebu Raya bersama Gubernur Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat.

Mereka menjelaskan, Indonesia memang menjadi anggota negara-negara Melanesia yag berada di Pasifik Selatan. Tercatat sebanyak sebelas negara yang masuk dalam rumpun Melanesia diantaranya Fiji, Papua New Guinea, Kepulauan Salomon dan Vanuatu kemudian Indonesia baru masuk bergabung menjadi anggota Melanesia tahun 2014 setelah selama empat tahun sebelumnya hadir sebagai pengamat saja.

“Indonesia baru masuk secara resmi menjadi anggota Melanesia tahun 2014 lalu ketika digelar Festifal Melanesia di Papua. Dan untuk diketahui, kelompok Melanesia itu adalah kelompok masyarakat yang berkulit hitam dan berambut kriting, karena itu di Indonesia hanya lima provinsi saja yang menjadi kelompok Malenesia yakni NTT, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat,” jelas Manuk.

Menurut Leo Nahak, saat festival Melanesia Papua tanggal 25 Juni sampai 2 Juli 2014, dia juga hadir sebagai sebagai pembicara dalan seminar di Papua saat itu. Peserta yang hadir itu memang rata-rata berkulit hitam dan berambut kriting. Dan inilah cirri khas masyarakat Melanesia.

“Saya hadir dalam festival itu dan tanpa kita sadari, justri panitia saat itu langsung menunjuk NTT menjadi tuan rumah Festival tahun ini,” katanya.

Festival Melanesia yang akan digelar sekitar tanggal 26 hingga 30 Oktober 2015 mendatang akan diisii dengan berbagai kegiatan antara lain temu budaya, pameran budaya masing-masing negara dan seminar dengan menghadirkan beberapa pembicara yang memahami betul Melanesia itu.

“Untuk pembicara dari NTT, sudah kita sepakati adalah Pater Gregor Neonbasu yang adalah salah satu pakar Budaya Melanesia dan juga akan didampingi Frans Sarong (wartawan Kopas di Kupang) dan Prof. Felix Sanga yang juga memahami betul budaya Melanesia,” kata Nahak.

Petrus Manuk mengatakan, terkait Budaya Melanesia tersebut, Ditjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI akan segera menerbitkan sebuah buku yang menulis tentang Budaya Melanesia. Penulisnya antara lain, Pater Gregor Neobasu, SVD.

“Saya bersama Pater Gregor beberapa waktu lalu mengikuti pertemuan di Kementerian. Pater menjelaskan secara detail tentang Budaya Melanesia itu, dan orang-orang di Kementerian ternyata tidak tahu banyak soal itu. Kemudian disepakati untuk menerbitkan buku Budaya Melanesia tersebut. Dan Pater Gregor dipercayakan menulis dua bab untuk buku tersebut,” kata Manuk. (bop)

Komentar ANDA?

Jajak Pendapat PIPP: Mayoritas Di Melanesia Mengatakan Ya! Untuk West Papua

1 komentar
HNews Pasifik,-- Sebagai pemimpin berkumpul di Fiji minggu ini untuk Melanesian Spearhead Group (MSG) Leaders Summit, Pasifik Institut Kebijakan Publik (PIPP) telah merilis temuan dari pertama jajak pendapat melalui telepon yang pernah dilakukan di seluruh Melanesia.
 
Tujuh pertanyaan yang berkaitan dengan "Melanesia keluarga" negara yang diajukan, termasuk satu meminta yang besar "non pulau Pasifik" negara dianggap mitra terbaik bagi masing-masing negara di wilayah tersebut.
 
Pemimpin MSG dapat didorong bahwa mayoritas (74,9%) responden menyadari badan regional untuk mewakili Melanesia.
 
Ketika ditanya siapa mereka dianggap sebagai bagian dari keluarga Melanesia, mayoritas yang jelas responden termasuk anggota didirikan (PNG, Kepulauan Solomon, Vanuatu, Fiji dan Kaledonia Baru), sementara 42% juga termasuk Papua Barat, 17,1% termasuk Australia, 14,9% termasuk Indonesia dan 14,1% termasuk Timor Leste.
 
Pertanyaan lain yang diajukan adalah "Apakah Anda mendukung kemerdekaan bagi Papua Barat?" Sebuah mayoritas responden di seluruh Melanesia mengatakan ya, dengan dukungan yang sangat tinggi di PNG (89,3%) dan Vanuatu (88,2%). Hal ini menunjukkan keterputusan antara dukungan rakyat dan posisi yang diambil oleh pemerintah di wilayah tersebut, kecuali Vanuatu, yang telah lama diperjuangkan Barat penyebab Papua pada tingkat politik.
 
Diminta untuk menghubungkan hubungan antara negara mereka dan Australia, mayoritas responden mengatakan hal itu positif kecuali yang berada di Fiji. Australia juga dianggap sebagai mitra eksternal yang terbaik untuk PNG (40,5%) dan Solomon (40,4%), sedangkan untuk Vanuatu hanya 14,1% responden menganggap Australia terbaik, sedangkan China mencetak 32,9%. Di antara responden di Fiji ada perasaan bahwa itu dianggap Australia, Selandia Baru, Cina dan AS karena semua kira-kira sama pentingnya.
 
Sehubungan dengan keterlibatan dengan Fiji, mayoritas responden termasuk di Fiji sendiri, memilih untuk meningkatkan keterlibatan atau menjaga tingkat keterlibatan seperti itu.
 
Pandangan yang diungkapkan oleh responden jajak pendapat ini dapat membantu para pemimpin MSG karena mereka membahas tentang masa depan daerah ini.
- See more at: http://holandianews.blogspot.com/2013/06/jajak-pendapat-pipp-mayoritas-di.html#sthash.KdoF8ALy.dpuf
HNews Pasifik,-- Sebagai pemimpin berkumpul di Fiji minggu ini untuk Melanesian Spearhead Group (MSG) Leaders Summit, Pasifik Institut Kebijakan Publik (PIPP) telah merilis temuan dari pertama jajak pendapat melalui telepon yang pernah dilakukan di seluruh Melanesia.
 
Tujuh pertanyaan yang berkaitan dengan "Melanesia keluarga" negara yang diajukan, termasuk satu meminta yang besar "non pulau Pasifik" negara dianggap mitra terbaik bagi masing-masing negara di wilayah tersebut.
 
Pemimpin MSG dapat didorong bahwa mayoritas (74,9%) responden menyadari badan regional untuk mewakili Melanesia.
 
Ketika ditanya siapa mereka dianggap sebagai bagian dari keluarga Melanesia, mayoritas yang jelas responden termasuk anggota didirikan (PNG, Kepulauan Solomon, Vanuatu, Fiji dan Kaledonia Baru), sementara 42% juga termasuk Papua Barat, 17,1% termasuk Australia, 14,9% termasuk Indonesia dan 14,1% termasuk Timor Leste.
 
Pertanyaan lain yang diajukan adalah "Apakah Anda mendukung kemerdekaan bagi Papua Barat?" Sebuah mayoritas responden di seluruh Melanesia mengatakan ya, dengan dukungan yang sangat tinggi di PNG (89,3%) dan Vanuatu (88,2%). Hal ini menunjukkan keterputusan antara dukungan rakyat dan posisi yang diambil oleh pemerintah di wilayah tersebut, kecuali Vanuatu, yang telah lama diperjuangkan Barat penyebab Papua pada tingkat politik.
 
Diminta untuk menghubungkan hubungan antara negara mereka dan Australia, mayoritas responden mengatakan hal itu positif kecuali yang berada di Fiji. Australia juga dianggap sebagai mitra eksternal yang terbaik untuk PNG (40,5%) dan Solomon (40,4%), sedangkan untuk Vanuatu hanya 14,1% responden menganggap Australia terbaik, sedangkan China mencetak 32,9%. Di antara responden di Fiji ada perasaan bahwa itu dianggap Australia, Selandia Baru, Cina dan AS karena semua kira-kira sama pentingnya.
 
Sehubungan dengan keterlibatan dengan Fiji, mayoritas responden termasuk di Fiji sendiri, memilih untuk meningkatkan keterlibatan atau menjaga tingkat keterlibatan seperti itu.
 
Pandangan yang diungkapkan oleh responden jajak pendapat ini dapat membantu para pemimpin MSG karena mereka membahas tentang masa depan daerah ini.
- See more at: http://holandianews.blogspot.com/2013/06/jajak-pendapat-pipp-mayoritas-di.html#sthash.KdoF8ALy.dpuf
HNews Pasifik,-- Sebagai pemimpin berkumpul di Fiji minggu ini untuk Melanesian Spearhead Group (MSG) Leaders Summit, Pasifik Institut Kebijakan Publik (PIPP) telah merilis temuan dari pertama jajak pendapat melalui telepon yang pernah dilakukan di seluruh Melanesia.
 
Tujuh pertanyaan yang berkaitan dengan "Melanesia keluarga" negara yang diajukan, termasuk satu meminta yang besar "non pulau Pasifik" negara dianggap mitra terbaik bagi masing-masing negara di wilayah tersebut.
 
Pemimpin MSG dapat didorong bahwa mayoritas (74,9%) responden menyadari badan regional untuk mewakili Melanesia.
 
Ketika ditanya siapa mereka dianggap sebagai bagian dari keluarga Melanesia, mayoritas yang jelas responden termasuk anggota didirikan (PNG, Kepulauan Solomon, Vanuatu, Fiji dan Kaledonia Baru), sementara 42% juga termasuk Papua Barat, 17,1% termasuk Australia, 14,9% termasuk Indonesia dan 14,1% termasuk Timor Leste.
 
Pertanyaan lain yang diajukan adalah "Apakah Anda mendukung kemerdekaan bagi Papua Barat?" Sebuah mayoritas responden di seluruh Melanesia mengatakan ya, dengan dukungan yang sangat tinggi di PNG (89,3%) dan Vanuatu (88,2%). Hal ini menunjukkan keterputusan antara dukungan rakyat dan posisi yang diambil oleh pemerintah di wilayah tersebut, kecuali Vanuatu, yang telah lama diperjuangkan Barat penyebab Papua pada tingkat politik.
 
Diminta untuk menghubungkan hubungan antara negara mereka dan Australia, mayoritas responden mengatakan hal itu positif kecuali yang berada di Fiji. Australia juga dianggap sebagai mitra eksternal yang terbaik untuk PNG (40,5%) dan Solomon (40,4%), sedangkan untuk Vanuatu hanya 14,1% responden menganggap Australia terbaik, sedangkan China mencetak 32,9%. Di antara responden di Fiji ada perasaan bahwa itu dianggap Australia, Selandia Baru, Cina dan AS karena semua kira-kira sama pentingnya.
 
Sehubungan dengan keterlibatan dengan Fiji, mayoritas responden termasuk di Fiji sendiri, memilih untuk meningkatkan keterlibatan atau menjaga tingkat keterlibatan seperti itu.
 
Pandangan yang diungkapkan oleh responden jajak pendapat ini dapat membantu para pemimpin MSG karena mereka membahas tentang masa depan daerah ini.
- See more at: http://holandianews.blogspot.com/2013/06/jajak-pendapat-pipp-mayoritas-di.html#sthash.KdoF8ALy.dpuf
HNews Pasifik,-- Sebagai pemimpin berkumpul di Fiji minggu ini untuk Melanesian Spearhead Group (MSG) Leaders Summit, Pasifik Institut Kebijakan Publik (PIPP) telah merilis temuan dari pertama jajak pendapat melalui telepon yang pernah dilakukan di seluruh Melanesia.
 
Tujuh pertanyaan yang berkaitan dengan "Melanesia keluarga" negara yang diajukan, termasuk satu meminta yang besar "non pulau Pasifik" negara dianggap mitra terbaik bagi masing-masing negara di wilayah tersebut.
 
Pemimpin MSG dapat didorong bahwa mayoritas (74,9%) responden menyadari badan regional untuk mewakili Melanesia.
 
Ketika ditanya siapa mereka dianggap sebagai bagian dari keluarga Melanesia, mayoritas yang jelas responden termasuk anggota didirikan (PNG, Kepulauan Solomon, Vanuatu, Fiji dan Kaledonia Baru), sementara 42% juga termasuk Papua Barat, 17,1% termasuk Australia, 14,9% termasuk Indonesia dan 14,1% termasuk Timor Leste.
 
Pertanyaan lain yang diajukan adalah "Apakah Anda mendukung kemerdekaan bagi Papua Barat?" Sebuah mayoritas responden di seluruh Melanesia mengatakan ya, dengan dukungan yang sangat tinggi di PNG (89,3%) dan Vanuatu (88,2%). Hal ini menunjukkan keterputusan antara dukungan rakyat dan posisi yang diambil oleh pemerintah di wilayah tersebut, kecuali Vanuatu, yang telah lama diperjuangkan Barat penyebab Papua pada tingkat politik.
 
Diminta untuk menghubungkan hubungan antara negara mereka dan Australia, mayoritas responden mengatakan hal itu positif kecuali yang berada di Fiji. Australia juga dianggap sebagai mitra eksternal yang terbaik untuk PNG (40,5%) dan Solomon (40,4%), sedangkan untuk Vanuatu hanya 14,1% responden menganggap Australia terbaik, sedangkan China mencetak 32,9%. Di antara responden di Fiji ada perasaan bahwa itu dianggap Australia, Selandia Baru, Cina dan AS karena semua kira-kira sama pentingnya.
 
Sehubungan dengan keterlibatan dengan Fiji, mayoritas responden termasuk di Fiji sendiri, memilih untuk meningkatkan keterlibatan atau menjaga tingkat keterlibatan seperti itu.
 
Pandangan yang diungkapkan oleh responden jajak pendapat ini dapat membantu para pemimpin MSG karena mereka membahas tentang masa depan daerah ini.
- See more at: http://holandianews.blogspot.com/2013/06/jajak-pendapat-pipp-mayoritas-di.html#sthash.KdoF8ALy.dpuf
HNews Pasifik,-- Sebagai pemimpin berkumpul di Fiji minggu ini untuk Melanesian Spearhead Group (MSG) Leaders Summit, Pasifik Institut Kebijakan Publik (PIPP) telah merilis temuan dari pertama jajak pendapat melalui telepon yang pernah dilakukan di seluruh Melanesia.
 
Tujuh pertanyaan yang berkaitan dengan "Melanesia keluarga" negara yang diajukan, termasuk satu meminta yang besar "non pulau Pasifik" negara dianggap mitra terbaik bagi masing-masing negara di wilayah tersebut.
 
Pemimpin MSG dapat didorong bahwa mayoritas (74,9%) responden menyadari badan regional untuk mewakili Melanesia.
 
Ketika ditanya siapa mereka dianggap sebagai bagian dari keluarga Melanesia, mayoritas yang jelas responden termasuk anggota didirikan (PNG, Kepulauan Solomon, Vanuatu, Fiji dan Kaledonia Baru), sementara 42% juga termasuk Papua Barat, 17,1% termasuk Australia, 14,9% termasuk Indonesia dan 14,1% termasuk Timor Leste.
 
Pertanyaan lain yang diajukan adalah "Apakah Anda mendukung kemerdekaan bagi Papua Barat?" Sebuah mayoritas responden di seluruh Melanesia mengatakan ya, dengan dukungan yang sangat tinggi di PNG (89,3%) dan Vanuatu (88,2%). Hal ini menunjukkan keterputusan antara dukungan rakyat dan posisi yang diambil oleh pemerintah di wilayah tersebut, kecuali Vanuatu, yang telah lama diperjuangkan Barat penyebab Papua pada tingkat politik.
 
Diminta untuk menghubungkan hubungan antara negara mereka dan Australia, mayoritas responden mengatakan hal itu positif kecuali yang berada di Fiji. Australia juga dianggap sebagai mitra eksternal yang terbaik untuk PNG (40,5%) dan Solomon (40,4%), sedangkan untuk Vanuatu hanya 14,1% responden menganggap Australia terbaik, sedangkan China mencetak 32,9%. Di antara responden di Fiji ada perasaan bahwa itu dianggap Australia, Selandia Baru, Cina dan AS karena semua kira-kira sama pentingnya.
 
Sehubungan dengan keterlibatan dengan Fiji, mayoritas responden termasuk di Fiji sendiri, memilih untuk meningkatkan keterlibatan atau menjaga tingkat keterlibatan seperti itu.
 
Pandangan yang diungkapkan oleh responden jajak pendapat ini dapat membantu para pemimpin MSG karena mereka membahas tentang masa depan daerah ini.
- See more at: http://holandianews.blogspot.com/2013/06/jajak-pendapat-pipp-mayoritas-di.html#sthash.KdoF8ALy.dpuf
Publisher: MELANESIA POST - 20.18
, , , , , , , ,

Janganlah jadikan wajahmu berpoteng dibalik ras Melanesia

Selamat datang di Melanesia Barat ! Melanesia adalah tempat khusus di Pasifik yang memiliki sesuatu untuk semua orang. Kaya akan sumber daya dan dengan banyaknya orang yang kaya dan beragam budaya, adat istiadat, ritual, mitos dan legenda, negara-negara Melanesia yang layak dikunjungi.

SESUNGGUHNYA, ORANG PAPUA ADALAH RAS MELANESIA

Janganlah jadikan wajahmu berpoteng dibalik ras Melanesia

Penulis, Donatus Bidaipouga Mote.
YOGYA. TIMIPOTU NEWS. Kalau kita melihat dengan hati yang murni dan mata yang jernih dari pandangan Agama, sesungguhnya kita orang Papua yang ber-ras Melanesia ini telah diciptakan oleh ALLAH dan telah di tempat di atas tanah Papua. Allah tidak hanya menciptakan dan menempatkan kita manusia Papua di atas bumi Papua hanya begitu saja tetapi Allah telah membentukkan diri dan karakter manusia Papua sesuai dengan bentuk alam yang ada di Papua seperti “gurung-gunung telah melambangkan bahwa orang Papua mempunyai keinginan yang tinggi untuk hidup bebas, lembah-lembah menunjukan bahwa orang Papua mempunyai kesabaran yang tinggi sekalipun orang Papua dikejar-kejar, dipenjarahkan, dirabek-rabek dan dibunuh sementara sungai-sungai melambangkan bahwa orang Papua mempunyai rasa kasih sayang yang tak terbatas antara sesama manusia dan manusia dengan alam Papua.

Kalau kita melihat dengan hati yang murni dan mata yang jernih dari pandangan budaya Papua, alam Papua dan manusia Papua tidak muncul begitu saja namun kita yakini bahwa ada orang yang menciptakan manusia “kita” dan alam Papua. Saya percaya bahwa, kalau kita berbicara menyankut siapa yang menciptakan manusia dan alam beserta isinya dari sudut pandang budaya Papua maka kita kembali melihat cerita-cerita leluhur yang telah diwariskan oleh leluhur kita. 
 
Dalam setiap suku yang ada di Papua terbentuknya alam dan manusia tidak terlepas dari mitos-mitos yang ada dalam setiap suku. Kita percaya bahwa, leluhur kita tidak pernah mengajarkan kita bahwa alam adalah milik ras Melayu atau ras-ras lain yang ada di dunia. Namun, yang pernah diajarkan oleh leluhur Papua adalah alam Papua adalah milik manusia Papua yang ber-ras Melanesia. Kita tidak pernah diajarkan bahwa manusia Papua itu berasal dari KERA yang kini diistilahkan dengan  pithecanthropus dari Soloensis namun kita telah diajarkan sesuai dengan cerita-cerita yang ada dalam suku-suku yang ada di bumi Papua. Maka, itu untuk melihat siap diri manusia Papua yang sesungguh itu perlu melihat kembali dalam cerita-cerita para leluhur dari setiap suku di Papua.

Kini kita telah disadarkan bahwa, sesungguhnya manusia Papua adalah ciptaan Allah yang unik walaupun suku bangsa dan Negara lain menjelek jelekan kita dengan berbagai macam kata-kata yang tidak manusiawi.
Berangkat dari itu, sebagai generasi muda Papua tentu sudah melihat, menyaksikan dan mendegar  bahwa, sekian banyak orang-orang tua kita dari Papua telah dikejar, ditangkap, dipenjarahkan, disiksa, dan telah dibunuh habis di atas tanah Papua. Kita pun pasti bertanya siapa yang membunuh orang tua kita di atas tanah kita Papua? sebagai generasi muda Papua perlu menyetahui dan sadar bahwa yang dibunuh orang tua kita adalah penjajahan yang kini kita kenal dengan Negara Republik Indonesia. Pasti saja kita bertanya; kenapa orang tua kita telah dibunuh habis-habisan? Orang tua kita dibunuh saat tanah Papua dianeksasi dalam Negara penjajahan “NKRI”.  
 
Dan pertanyaan besar yang selalu muncul dalam pikiran kita adalah; kenapa orang tua kita yang tidak tahu membaca dan menulis itu bisa dibunuh oleh penjajahan? Orang tua kita telah dibunuh demi mempertahankan tanah Papua sebagai tanah milik orang Papua ras Melanesia. Orang tua relah berkorban demi mempertahankan tanah Papua sebagai milik orang Papua karena mereka merasa berdosa apabila tanah Papua ini diserahkan kedalam Negara lain yang ber-ras yang berbedah dengan ras Melanesia.

Namun demikian, pada dunia belakangan ini kita telah melihat dan mendengar bahwa, diatas korbanya orang tua Papua itu, masih banyak anak-anak bangsa Papua yang wajahnya bertopeng dengan wajah penjajahan. Masih banyak anak-anak bangsa Papua yang menari-nari dengan wajah bertopeng dan Masih banyak anak-anak bangsa Papua yang bernyanyi-nyanyi dengan memakai topeng penjajahan.

Mari kita lihat, saksikan, dan kembali bertanya;
Apakah benar anak bangsa Papua telah memakai topeng penjajahan? Jawabannya cukup jelas dan mudah sekali kita dapat karena memang hal itu telah terjadi di depan mata manusia dan depan mata alam Papua serta terjadi depan mata tulang-belulang yang ada di bumi Papua. 
 
Apakah di kalangan birokrat, orang Papua telah memakai topeng penjajahan? Jawabannya, kita lihat saja bahwa ternyata banyak orang Papua tanpa memikirkan pengorbanan orang tua yang relah mengorbankan nyawa mereka di tangan para serdadu-sedadu itu dan mulia menari-nari dengan bertopeng penjajahan untuk menindas ras Melanesia itu sendiri. Yang menjadi pertanyaan besar adalah, apakah saudara pernah merasa berdosa sejak saudara mengambil dan memakai topeng penjajahan itu untuk menindas rakyat yang sama ras dengan dirimu? Dalam hal ini saya tidak membutuhkan jawaban namun saya hanya mengharapkan agar bisa sadar bahwa orang tua kita telah dibunuh oleh topeng  yang anda pakai saat ini.

Apakah di kalangan pelajar dan mahasiswa Papua telah memakai topeng penjajahan? Jawabannya kita tidak perlu cari jauh-jauh. Ternyata mahasiswa yang biasa disebut agen perubahan itu saja masih memakai topeng penjajahan untuk menindas teman-teman seperjuangan lain dan menindas rakyatnya sendiri. Yang menjadi pertanyaan besar bagi manusia Papua dan alam Papua adalah? Apakah saudara pernah berpikir bahwa topeng yang saudara pakai atau menggunakan ini tetap akan tercatat dalam agenda Papua dan agenda di surga bahwa “berdosa”?. Apakah saudara pernah bersedih hati atas dibunuhnya orang tua Papua oleh topeng yang anda pakai saat ini? Apakah saudara pernah bersedih hati atas kandungan alam yang dikuras habis oleh topeng yang anda pakai saat ini?. 
 
Pertanyaan-pertanyaan diatas ini saya tidak juga membutuhkan jawaban namun saya hanya mengharapkan kesadaran akan diri, kesadaran akan sukunya, kesadaran akan tanah Papua, kesadaran akan bangsa Papua, dan kesadaran akan ras Melanesia. Dengan demikian, sebagai pendidikan politik dan pendidikan kesadaran, saya hanya mau menuliskan sebuh tulisan keprihatinan dan karena adanya rasa nasionalis terhadap rakyat Papua dan alam Papua.
 
Tugas pokok pelajar dan mahasiswa Papua adalah, kita sekolah/kuliah bukan untuk menjadi buruh di ladangnya penjajahan, bukan untuk berkarya di ladangnya penjajahan, bukan juga untuk menjadi alat negara dari penjajahan tetapi, ingat pelajar dan mahasiswa Papua sekolah untuk menjadi motoris dalam membawah manusia Papua, alam Papua, dan tulang belulang dari penjajahan. Pelajar dan mahasiswa Papua menjadi agen perubahan dalam menjawab kerinduan alam Papua yang ingin keluar dari penjajahan, untuk menjawab kerinduan dari tulang belulang untuk merayakan sebagai hari pahlawan Negara, dan pelajar dan mahasiswa Papua hadir untuk menjawab kerinduan orang tua “manusia Papua” untuk membawah keluar dari segala penindasan. Bukan untuk memakai topeng penjajahan
 
Kawan-kawan pelajar dan mahasiswa Papua perlu ingat bahwa orang tua kita telah dibunuh, alam kita sedang dikuras habis dan kita pun masih dikejar-kejar oleh kaum penjajahan. Apabila ada pelajar dan mahasiswa Papua yang telah menjadi bagian dari penjajahn berarti segera bertobat kembali karena Alam Papua sedang melihat dirimu, tulang-belulang telah menyaksikanmu, dan kerinduan manusia Papua sedang mengejar-ngejar dirimu. Kalau tidak mau kembali untuk merasakan apa yang dirasakan oleh manusia Papua dan alam Papua berarti selamat menanggung dosa umat manusia Papua.
 
Kawan-kawan ingat bahwa, kalau kita (pelajar dan mahasiswa) tidak menjadi agen perubahan bagi alam dan manusia Papua berarti kita siap memikul dosa. Kenapa? Karena, apabila generasi kita juga masih saja hidup dalam tekanan, penindasan, dan penjajahan berarti kita telah gagal atau belum mampu mewujudkan Firman Allah yang mengatakan “manusia harus hidup bebas di atas bumi”.  Maka itu. sebagai generasi muda Papua janganlah memakai topeng penjajahan, jangalah menjadi kaki tangan dari penjajahan karena alam Papua masih menyaksikan dirimu, manusia Papua masih melihat dirimu, tulang belulang Papua masih melihat dirimu, dan mata hari  serta bulan dan bintang juga masih menyaksikan dirimu.
 
Revolusi ada di tangan pelajar dan mahasiswa maka, jangalah mengambil dan memakai topeng penjajahan yang sedang ditawarkan dengan tingginya nilai mata uang. Stop bertopeng dan mari bersatu mengusir penjajahan di atas bumi Papua sebab bumi Papua itu diciptakan oleh ALLAH untuk manusia Papua bisa hidup dengan besas. Dalam kebebasan itulah manusia Papua bisa berekspresikan hidupnya dan bisa berkarya demi kemulian nama ALLAH Sendiri.


REPORTER OF TIMIPOTU NEWS
Publisher: Unknown - 07.34
, , , , , , , ,

Melanesia

Melanesia

Geographic definition of Melanesia, surrounded by a pink line.
Melanesia (from Greek, meaning "black islands") is a region extending from the western side of the eastern Pacific to the Arafura Sea, north and northeast of Australia. It consists of 2,000 islands with a total land area of about 386,000 square miles (one million square kilometers), and is home to about 12 million people. These islands have been inhabited for tens of thousands of years.

The term "Melanesia" was first used by Jules Dumont d'Urville in 1832 to denote an ethnic and geographical grouping of islands distinct from Polynesia and Micronesia. Today d'Urville's racial classification is considered inaccurate because it obscures Melanesia's cultural, linguistic, and genetic diversity. Most importantly, this term combines two quite distinct groups, the Austronesians and the Papuans (who themselves can be considered as comprising a number of distinct groups). The Papuans arrived in New Guinea’s around 40,000 years ago; they developed agriculture. The later wave of Austronesian people, from Taiwan, brought ocean-voyaging skills.
Ethno-cultural definition of Melanesia.
Melanesia is one of three major cultural areas in the Pacific Ocean.

Definition

The term Melanesia can be used in either an anthropological or a geographical context. In the former, the term refers to one of the three regions of Oceania whose pre-colonial population generally belongs to one ethno-cultural family as a result of centuries of maritime migrations. The geographic conception of Melanesia is used as a reference to the area where political, ethnic, and linguistic distinctions are not relevant.
The term is also present in geopolitics, where the Melanesian Spearhead Group Preferential Trade Agreement is a regional trade treaty involving the states of Vanuatu, Solomon Islands, Papua New Guinea and Fiji.

This general article only covers the broad characteristics of Melanesia. For more information, see the links to the individual articles.

Geography

Melanesia's 2,000 islands and total land area of about 386,000 square miles (one million square kilometers) is home to about 12 million people. The climate of Melanesia is tropically humid. The vegetation comprises forest and jungle, providing resources, shelter, and seclusion for inland tribes.
The following islands and groups of islands are traditionally considered part of Melanesia:
Islands of mixed ancestry which do not necessarily self-identify as Melanesian:
  • Nauru
  • Timor
  • Flores
  • Sumba
Some of the islands to the west of New Guinea such as Halmahera, Alor, and Pantar can also be considered to be part of Melanesia, although people in this area do not make use of the term.

The Bismarck Archipelago comprises 200 islands off the northeastern coast of New Guinea and belongs to Papua New Guinea. The archipelago includes mostly volcanic islands, the most important of which are: the Admiralty Islands, Duke of York Islands, Mussau Islands, New Britain, New Hanover Island, New Ireland, and the Vitu Islands.
Fiji consists of 322 islands, of which 110 are inhabited, and 522 smaller islets. The two most important islands are Viti Levu and Vanua Levu.
New Caledonia is made up of a main island, Grande Terre, and several smaller islands, the Belep archipelago to the north, the Loyalty Islands to the east, Île des Pins to the south, the Chesterfield Islands and Bellona Reefs further west.

New Guinea, located just north of Australia, is the world's second largest island. The name Papua has been long associated with the island. The western half of the island contains the Indonesian provinces of Papua and West Irian Jaya, while the eastern half forms the mainland of the independent nation of Papua New Guinea.

The Solomon Islands are located east of Papua New Guinea, consist of nearly 1,000 islands, and cover a land mass of about 11,000 square miles (28,400 square kilometers).
The Maluku Islands (also known as the “Moluccas,”) are an archipelago in Indonesia, and part of the larger Malay Archipelago. They are located east of Sulawesi (Celebes), west of New Guinea, and north of Timor.
The Torres Strait Islands are a group of at least 274 small islands in Torres Strait, the waterway separating far northern continental Australia's Cape York Peninsula and the island of New Guinea. They are part of Queensland, a state of Australia.

Vanuatu is located some 1,100 miles (1,750 km) east of Australia, 30 miles (50 km) northeast of New Caledonia, west of Fiji and south of the Solomon Islands. Vanuatu is an archipelago of 83 islands, of which two — Matthew and Hunter Islands — are also claimed by the French overseas department of New Caledonia.

History


Levuka circa 1842.
Melanesia has been the site of human habitation for tens of thousands of years. The first pre-European inhabitants of the Torres Strait Islands are believed to have migrated from the Indonesian archipelago 70,000 years ago when New Guinea was still attached to the Australian continent. New Guinea’s first inhabitants arrived around 40,000 years ago, having traveled through the southeast Asian peninsula; they developed one of the earliest known agricultures. A later wave of Austronesian people, from Taiwan, brought ocean-voyaging skills. The Maluku Islands have been occupied for 32,000 years, as have the Bismarck Archipelago and the Solomon Islands, where Polynesian settlers began to arrive around 4000 B.C.E.. The Lapita people arrived in New Caledonia and the Loyalty Islands around 1500 B.C.E.; Polynesians also arrived, beginning around the eleventh century. Vanuatu was settled around 1300 B.C.E., and Fiji around 1000 B.C.E..

Portuguese and Spanish explorers made contact with the Maluku Islands, then known as the “Spice Islands,” New Guinea, and the Solomon Islands in the sixteenth century. Dalmatian sailors were the first Europeans to reach the Bismarck Archipelago also in the sixteenth century. The Portuguese maritime explorer Luis Vaez de Torres sailed through the Torres Strait in 1606, and in that year a Spanish expedition became the first Europeans to reach Vanuatu. Dutch explorer Abel Tasman visited Fiji in 1643, and the British explorer James Cook named "New Caledonia" in 1774.

European colonization of Melanesia gathered pace from the late eighteenth century. Vanuatu suffered from "blackbirding," wherein half of the adult male population of some of the islands became indentured workers in Australia. The Netherlands claimed the western half of New Guinea in 1828. Britain took over southeastern New Guinea, and Germany claimed northeastern New Guinea (including the Bismarck Archipelago) in 1884. The Dutch and the British tried to suppress warfare and headhunting throughout Melanesia. New Caledonia was made a French possession in 1853. Blackbirding prompted the United Kingdom to declare a protectorate over the southern Solomons in 1893. Queensland annexed the Torres Strait Islands in 1879. The Fiji islands came under British control as a colony in 1874. In 1906, the British government transferred responsibility for their territory in New Guinea to Australia.

The world wars of the twentieth century brought both changes to the balance of foreign domination in Melanesia, and intense fighting. During World War I, Australian forces seized German New Guinea, including the Bismarck Archipelago, both of which became League of Nations-mandated territories of Australia in 1920. The Japanese invaded Netherlands New Guinea and the Australian territories in 1942. The highlands, northern, and eastern parts of the island became key battlefields. Papuans fought alongside Australian and U.S. troops. Some of the most intense fighting of World War II occurred in the Solomons as well.

English map of New Guinea, circa 1940s.
During World War II, the islands of Éfaté and Espiritu Santo in Vanuatu were used as Allied military bases. During the Japanese occupation of the Maluku Islands, the islanders fled to the mountains and began a campaign of resistance known as the South Moluccan Brigade. Thursday Island became the military headquarters for the Torres Strait and was a base for Australian and United States forces. In 1942, the Japanese bombed neighboring Horn Island, which had an airbase used by the Allies to attack parts of New Guinea.

Independence became an issue throughout Melanesia after the war ended in 1945. Political leaders of the Maluku Islands and Netherlands New Guinea discussed independence with the Netherlands, but both regions came under the control of Indonesia. Fiji was granted independence in 1970. Australia granted full independence to Papua New Guinea on September 16, 1975. On January 2, 1976, the Solomons became self-governing, then two years later became independent. In the 1960s, the ni-Vanuatu people started to press for self-governance, and later, independence. Full sovereignty was granted to them on July 30, 1980. The Torres Strait Islanders became citizens of Queensland in 1967 with full access to Australian health and social services and the freedom to travel and work in Australia.

Independence struggles continued in those Melanesian countries remaining under foreign control, and poor governance dogged the newly independent countries. The governments formed in the Solomon Islands since independence have not improved the country. Democratic rule was interrupted in Fiji by two coups in 1987, caused by concern over a government perceived as dominated by the Indo-Fijian (Indian) community, and a further coup in 2000. Tension between the government and the army surfaced in 2006. Agitation in New Caledonia by the Front de Libération Nationale Kanak Socialiste for independence began in 1985, resulting in increased autonomy. There has been intermittent ethnic and nationalist violence on the Maluku Islands, and acts of terrorism by members of the Republik Maluku Selatan government-in-exile in the Netherlands since that time.

A most startling discovery in Papua New Guinea took place on August 4, 1938, when Richard Archbold discovered the Grand Valley of the Balim River that had 50,000 yet-undiscovered Stone Age farmers living in orderly villages. The people, known as the Dani, were the last society of its size to make first contact with the Western world.

Solomon Island Warriors with Spears in Ornamented War Canoe

Politics

The politics of Fiji take place in a framework of a parliamentary representative democratic republic, whereby the Prime Minister of Fiji is the head of government, and of a pluriform multi-party system.
New Caledonia has a political status that is in between that of an independent country and a normal overseas "département" of France.

The western half of the island of New Guinea consists of two provinces of Indonesia, Papua and West Irian Jaya, and so is part of the Indonesian republic. The eastern half of the island, Papua New Guinea, which includes the Bismarck Archipelago, is a member of the Commonwealth of Nations; Queen Elizabeth II of the United Kingdom is the head of state, represented by a governor general. Executive power lies with the Prime Minister, who heads the cabinet. The unicameral national parliament has 109 seats.

The Maluku Islands, as of 2006, were divided into two provinces of Indonesia, Maluku and North Maluku. The Torres Strait Islands are part of Australia and are governed by the Torres Strait Regional Authority.
Vanuatu has a republican political system headed by a President. The Prime Minister, elected by Parliament, appoints a Council of Ministers to form the executive. The Parliament of Vanuatu is unicameral, and has 52 members. The National Council of Chiefs advises on culture and language.

Economics

Did you know?
Melanesia consists of 2,000 islands and 12 million people who practice a variety of subsistence economies
Subsistence is the main characteristic of the economies of Melanesia.

Fiji, endowed with forest, mineral, and fish resources, has one of the more developed economies, though still has a large subsistence sector. Fiji experienced a period of rapid growth in the 1960s and 1970s but stagnated in the early 1980s.

New Caledonia has about 25 percent of the world's known nickel resources, mostly mined from open-pit mines. Only a small amount of the land is suitable for cultivation, and food accounts for about 20 percent of imports. Substantial financial support from France, and tourism, are key to the health of the economy.
Papua New Guinea is richly endowed with natural resources, but exploitation has been hampered by rugged terrain, the high cost of developing infrastructure, serious law and order problems, and difficulties with land title. Agriculture provides a subsistence livelihood for 85 percent of the population. Mineral deposits, including petroleum oil, copper, and gold, account for 72 percent of export earnings.
The economy of Western New Guinea is undeveloped. The people subsist by hunting, fishing, and cultivating bananas, corn, manioc, sago, yams, and other crops.

Pearl farming is a major source of income for the Maluku island of Aru.
The Solomon Islands is a lesser-developed nation, and more than 75 percent of its labor force is engaged in subsistence farming and fishing. Fishing is the main economic activity in the Torres Strait Islands, particularly fishing for prawns, rock lobsters, and Spanish mackerel, along with subsistence horticulture.
The Vanuatuan economy is based on small-scale agriculture, which provides a living for 65 percent of the population. Fishing, offshore financial services, and tourism are other mainstays. Mineral deposits are negligible. The country has no known petroleum deposits.

Demographics

The original inhabitants of Melanesia are likely to have been the ancestors of the present-day Papuan language-speaking people. These are Negroid people, a tall, dark-skinned people with broad features, and with black, kinky hair. These people are thought to have occupied New Guinea tens of thousands of years ago, and to have reached the islands of Melanesia at least 35,000 years ago (according to radiocarbon dating of artifacts).

It is along the north coast of New Guinea and in the islands north and east of New Guinea that the Austronesian people came into contact with these pre-existing populations of Papuan-speaking peoples, probably around 4,000 years ago. It seems there was a long period of interaction that resulted in many complex changes in genetics, languages, and culture. It is likely that it is from this area that a very small group of people departed to the east to become the original Polynesian people.

Most Melanesian people belong to a Christian church, the denomination depending upon the established church of the colonial power. However, many people combine their Christian faith with some pre-Christian traditional indigenous practices. In Fiji, religion is one of the faultlines between indigenous Fijians and Indo-Fijians, with the former overwhelmingly Christian, and the latter mostly Hindu and Muslim.
Dense jungle historically allowed tribes to remain aloof from one another. This resulted in a much greater diversity of language and culture. There are hundreds of languages and even more dialects spoken throughout Melanesia. Fiji has three official languages: English, which was introduced by the former British colonial rulers, Bau Fijian, spoken by ethnic Fijians, and Hindustani, the main language spoken by Indo-Fijians. English is the main medium of communication. Bau Fijian belongs to the Austronesian family of languages.
In New Caledonia, French is the official language, while an estimated 27 Kanak languages, belonging to the Oceanic sub-branch of Austronesian languages, coexist. There are three official languages for Papua New Guinea, in addition to over 700 indigenous non-Austronesian (or Papuan languages) and Austronesian languages. An incredible ten percent of the world's total languages are spoken in Papua New Guinea. In Western New Guinea, there are over three hundred languages and two hundred additional dialects.
There are 74 languages in the Solomon Islands, four of those extinct. While English is the official language, only one to two percent of the population speak it, and the prevalent language is Solomons Pijin. In Vanuatu, English, French, and Bislama (a Creole language which evolved from English) are the three official languages, while over one hundred local languages are spoken there. The density of languages per capita is the highest of any nation in the world (with an average of only two thousand speakers per language).

Although English is the official language of the Torres Strait Islands, there are two indigenous languages. The language of the western and central islands is a member of the Pama-Nyungan family of languages, which covers most of Australia, while the language of eastern Torres Strait is Meriam Mìr, related to the languages of the nearby coast of Papua New Guinea.

Society and culture

People of Melanesian countries often talk about the “Melanesian way,” that people of the region see as a distinctively Melanesian set of cultural values and behavior.
Melanesians used the bow and arrow in hunting and fighting, and practiced head-hunting as a tradition of stealthy raiding to secure proof of manhood. Tattooing is practiced throughout Oceania, but scarification, or the raising of great scars or keloids as marks of age or social status, is a Papuan custom.

Family

In numerous places throughout Melanesia, an older social system, based on descent from the mother (matrilineal), has changed to a patrilineal system. A combination of these two forms of social organization frequently exists. The customs of kava drinking and tattooing were possibly the result of later waves of immigration. A still later migration brought the practice of betel-chewing.

In New Guinea, the basic village household consists of a husband, a wife, their unmarried children, and perhaps the husband's parents. Extended families live in adjacent houses, gathering frequently for meals, companionship, work parties, and ceremonies. Men's houses are no longer common, although young men may live with other bachelors.
Central to Torres Strait Islanders' sense of identity are the extended families, within which respect for elders is preserved. Families provide the framework within which obligations to kin are met and the sharing of resources is ensured. The family is also the source of emotional and spiritual support.

Cannibalism

New Guinea is well-known in the popular imagination for ritual cannibalism that was practiced by some (but far from all) ethnic groups. The Korowai and Kombai peoples of southeastern Western New Guinea are two of the last surviving tribes in the world said to have engaged in cannibalism in the recent past. In the Asmat area of southwestern Papua, it may have occurred up until the early 1970s. In a 2006 episode of the BBC/Discovery Channel documentary series "Going Tribal," ("Tribe" in the UK) a Kombai man recounts his participation in cannibal rituals. In 1963, a missionary named Tom Bozeman described the Dani tribe feasting on an enemy slain in battle.

According to Jared Diamond in Guns, Germs, and Steel, cannibalism may have arisen in New Guinea due to the scarcity of sources of protein.The traditional crops, taro and sweet potato, are low in protein compared to wheat and pulses, and the only edible animals available were small or unappetizing, such as mice, spiders, and frogs. Cannibalism led to the spread of Kuru disease, affecting the brain, similar to Creutzfeldt-Jakob disease, prompting the Australian administration to outlaw the practice in 1959.

Notes

  1. ↑ Jared Diamond and Ernst Mayr, The Birds of Northern Melanesia: Speciation, Ecology, and Biogeography (New York, NY: Oxford University Press, 2001, ISBN 0195141709).
  2. ↑ Here Be Cannibals The Heretical Press. Retrieved October 12, 2011.
  3. ↑ Jared Diamond, Guns, Germs, and Steel: The Fates of Human Societies (New York, NY: W.W. Norton & Company, 2005, ISBN 978-0393061314), 149.

References

  • Diamond, Jared. Guns, Germs, and Steel: The Fates of Human Societies. New York, NY: W.W. Norton & Company, 2005. ISBN 978-0393061314
  • Diamond, Jared, and Ernst Mayr. The Birds of Northern Melanesia: Speciation, Ecology, and Biogeography. New York, NY: Oxford University Press, 2001. ISBN 0195141709
  • May, R.J., Anthony Regan, Sinclair Dinnen, Michael Morgan, Brij Lal, and Benjamin Reilly. Arc of Instability? - Melanesia in the Early 2000s. University of Canterbury, New Zealand, 2003. ISBN 1877175137
  • Moore, Clive. New Guinea: Crossing Boundaries and History. Honolulu, HI: University of Hawaii Press, 2006. ISBN 978-0824824853
  • Regan, Anthony J., and Helga M. Griffin. Bougainville: before the conflict. Pandanus Press and the State Society and Governance Project in Melanesia, The Australian National University, Canberra, 2005. ISBN 1740761383
  • Sullivan, Nancy. Governance Challenges for PNG and the Pacific Islands. DWU Press and State, Society and Governance in Melanesia Project, RSPAS, ANU, 2004. ISBN 9980997672

Countries and territories of Oceania
Australia.png Australia : Australia · Norfolk Island
Melanesia.png Melanesia : East Timor · Fiji · Maluku Islands & Western New Guinea (part of Indonesia) · New Caledonia · Papua New Guinea · Solomon Islands · Vanuatu
Micronesia.png Micronesia : Guam · Kiribati · Marshall Islands · Northern Mariana Islands · Federated States of Micronesia · Nauru · Palau · Wake Island
Polynesia.png Polynesia : American Samoa · Cook Islands · French Polynesia · Hawaii · New Zealand · Niue · Pitcairn Islands · Samoa · Tokelau · Tonga · Tuvalu · Wallis and Futuna

Credits

New World Encyclopedia writers and editors rewrote and completed the Wikipedia article in accordance with New World Encyclopedia standards. This article abides by terms of the Creative Commons CC-by-sa 3.0 License (CC-by-sa), which may be used and disseminated with proper attribution. Credit is due under the terms of this license that can reference both the New World Encyclopedia contributors and the selfless volunteer contributors of the Wikimedia Foundation. To cite this article click here for a list of acceptable citing formats.The history of earlier contributions by wikipedians is accessible to researchers here:
Note: Some restrictions may apply to use of individual images which are separately licensed.
Publisher: Unknown - 09.55