Selamat datang di Melanesia Barat ! Melanesia adalah tempat khusus di Pasifik yang memiliki sesuatu untuk semua orang. Kaya akan sumber daya dan dengan banyaknya orang yang kaya dan beragam budaya, adat istiadat, ritual, mitos dan legenda, negara-negara Melanesia yang layak dikunjungi.
SESUNGGUHNYA, ORANG PAPUA ADALAH RAS MELANESIA
Janganlah jadikan wajahmu berpoteng dibalik ras Melanesia
Penulis, Donatus Bidaipouga Mote.
YOGYA. TIMIPOTU NEWS.
Kalau kita melihat dengan hati yang murni dan mata yang jernih dari
pandangan Agama, sesungguhnya kita orang Papua yang ber-ras Melanesia
ini telah diciptakan oleh ALLAH dan telah di tempat di atas tanah Papua.
Allah tidak hanya menciptakan dan menempatkan kita manusia Papua di
atas bumi Papua hanya begitu saja tetapi Allah telah membentukkan diri
dan karakter manusia Papua sesuai dengan bentuk alam yang ada di Papua
seperti “gurung-gunung telah melambangkan bahwa orang Papua mempunyai
keinginan yang tinggi untuk hidup bebas, lembah-lembah menunjukan bahwa
orang Papua mempunyai kesabaran yang tinggi sekalipun orang Papua
dikejar-kejar, dipenjarahkan, dirabek-rabek dan dibunuh sementara
sungai-sungai melambangkan bahwa orang Papua mempunyai rasa kasih sayang
yang tak terbatas antara sesama manusia dan manusia dengan alam Papua.
Kalau kita melihat dengan hati yang murni dan mata yang jernih dari
pandangan budaya Papua, alam Papua dan manusia Papua tidak muncul begitu
saja namun kita yakini bahwa ada orang yang menciptakan manusia “kita”
dan alam Papua. Saya percaya bahwa, kalau kita berbicara menyankut siapa
yang menciptakan manusia dan alam beserta isinya dari sudut pandang
budaya Papua maka kita kembali melihat cerita-cerita leluhur yang telah
diwariskan oleh leluhur kita.
Dalam setiap suku yang ada di Papua terbentuknya alam dan manusia tidak
terlepas dari mitos-mitos yang ada dalam setiap suku. Kita percaya
bahwa, leluhur kita tidak pernah mengajarkan kita bahwa alam adalah
milik ras Melayu atau ras-ras lain yang ada di dunia. Namun, yang pernah
diajarkan oleh leluhur Papua adalah alam Papua adalah milik manusia
Papua yang ber-ras Melanesia. Kita tidak pernah diajarkan bahwa manusia
Papua itu berasal dari KERA yang kini diistilahkan dengan pithecanthropus
dari Soloensis namun kita telah diajarkan sesuai dengan cerita-cerita
yang ada dalam suku-suku yang ada di bumi Papua. Maka, itu untuk melihat
siap diri manusia Papua yang sesungguh itu perlu melihat kembali dalam
cerita-cerita para leluhur dari setiap suku di Papua.
Kini kita telah disadarkan bahwa, sesungguhnya manusia Papua adalah
ciptaan Allah yang unik walaupun suku bangsa dan Negara lain menjelek
jelekan kita dengan berbagai macam kata-kata yang tidak manusiawi.
Berangkat
dari itu, sebagai generasi muda Papua tentu sudah melihat, menyaksikan
dan mendegar bahwa, sekian banyak orang-orang tua kita dari Papua telah
dikejar, ditangkap, dipenjarahkan, disiksa, dan telah dibunuh habis di
atas tanah Papua. Kita pun pasti bertanya siapa yang membunuh orang tua
kita di atas tanah kita Papua? sebagai generasi muda Papua perlu
menyetahui dan sadar bahwa yang dibunuh orang tua kita adalah penjajahan
yang kini kita kenal dengan Negara Republik Indonesia. Pasti saja kita
bertanya; kenapa orang tua kita telah dibunuh habis-habisan? Orang tua
kita dibunuh saat tanah Papua dianeksasi dalam Negara penjajahan
“NKRI”.
Dan pertanyaan besar yang selalu muncul dalam pikiran kita adalah;
kenapa orang tua kita yang tidak tahu membaca dan menulis itu bisa
dibunuh oleh penjajahan? Orang tua kita telah dibunuh demi
mempertahankan tanah Papua sebagai tanah milik orang Papua ras
Melanesia. Orang tua relah berkorban demi mempertahankan tanah Papua
sebagai milik orang Papua karena mereka merasa berdosa apabila tanah
Papua ini diserahkan kedalam Negara lain yang ber-ras yang berbedah
dengan ras Melanesia.
Namun demikian, pada dunia belakangan ini kita telah melihat dan
mendengar bahwa, diatas korbanya orang tua Papua itu, masih banyak
anak-anak bangsa Papua yang wajahnya bertopeng dengan wajah penjajahan.
Masih banyak anak-anak bangsa Papua yang menari-nari dengan wajah
bertopeng dan Masih banyak anak-anak bangsa Papua yang bernyanyi-nyanyi
dengan memakai topeng penjajahan.
Mari kita lihat, saksikan, dan kembali bertanya;
Apakah benar anak bangsa Papua telah memakai topeng penjajahan?
Jawabannya cukup jelas dan mudah sekali kita dapat karena memang hal itu
telah terjadi di depan mata manusia dan depan mata alam Papua serta
terjadi depan mata tulang-belulang yang ada di bumi Papua.
Apakah di kalangan birokrat, orang Papua telah memakai topeng
penjajahan? Jawabannya, kita lihat saja bahwa ternyata banyak orang
Papua tanpa memikirkan pengorbanan orang tua yang relah mengorbankan
nyawa mereka di tangan para serdadu-sedadu itu dan mulia menari-nari
dengan bertopeng penjajahan untuk menindas ras Melanesia itu sendiri.
Yang menjadi pertanyaan besar adalah, apakah saudara pernah merasa
berdosa sejak saudara mengambil dan memakai topeng penjajahan itu untuk
menindas rakyat yang sama ras dengan dirimu? Dalam hal ini saya tidak
membutuhkan jawaban namun saya hanya mengharapkan agar bisa sadar bahwa
orang tua kita telah dibunuh oleh topeng yang anda pakai saat ini.
Apakah di kalangan pelajar dan mahasiswa Papua telah memakai topeng
penjajahan? Jawabannya kita tidak perlu cari jauh-jauh. Ternyata
mahasiswa yang biasa disebut agen perubahan itu saja masih memakai
topeng penjajahan untuk menindas teman-teman seperjuangan lain dan
menindas rakyatnya sendiri. Yang menjadi pertanyaan besar bagi manusia
Papua dan alam Papua adalah? Apakah saudara pernah berpikir bahwa topeng
yang saudara pakai atau menggunakan ini tetap akan tercatat dalam
agenda Papua dan agenda di surga bahwa “berdosa”?. Apakah saudara pernah
bersedih hati atas dibunuhnya orang tua Papua oleh topeng yang anda
pakai saat ini? Apakah saudara pernah bersedih hati atas kandungan alam
yang dikuras habis oleh topeng yang anda pakai saat ini?.
Pertanyaan-pertanyaan diatas ini saya tidak juga membutuhkan jawaban
namun saya hanya mengharapkan kesadaran akan diri, kesadaran akan
sukunya, kesadaran akan tanah Papua, kesadaran akan bangsa Papua, dan
kesadaran akan ras Melanesia. Dengan demikian, sebagai pendidikan
politik dan pendidikan kesadaran, saya hanya mau menuliskan sebuh
tulisan keprihatinan dan karena adanya rasa nasionalis terhadap rakyat
Papua dan alam Papua.
Tugas pokok pelajar dan mahasiswa Papua adalah, kita sekolah/kuliah
bukan untuk menjadi buruh di ladangnya penjajahan, bukan untuk berkarya
di ladangnya penjajahan, bukan juga untuk menjadi alat negara dari
penjajahan tetapi, ingat pelajar dan mahasiswa Papua sekolah untuk
menjadi motoris dalam membawah manusia Papua, alam Papua, dan tulang
belulang dari penjajahan. Pelajar dan mahasiswa Papua menjadi agen
perubahan dalam menjawab kerinduan alam Papua yang ingin keluar dari
penjajahan, untuk menjawab kerinduan dari tulang belulang untuk
merayakan sebagai hari pahlawan Negara, dan pelajar dan mahasiswa Papua
hadir untuk menjawab kerinduan orang tua “manusia Papua” untuk membawah
keluar dari segala penindasan. Bukan untuk memakai topeng penjajahan
Kawan-kawan pelajar dan mahasiswa Papua perlu ingat bahwa orang tua kita
telah dibunuh, alam kita sedang dikuras habis dan kita pun masih
dikejar-kejar oleh kaum penjajahan. Apabila ada pelajar dan mahasiswa
Papua yang telah menjadi bagian dari penjajahn berarti segera bertobat
kembali karena Alam Papua sedang melihat dirimu, tulang-belulang telah
menyaksikanmu, dan kerinduan manusia Papua sedang mengejar-ngejar
dirimu. Kalau tidak mau kembali untuk merasakan apa yang dirasakan oleh
manusia Papua dan alam Papua berarti selamat menanggung dosa umat
manusia Papua.
Kawan-kawan ingat bahwa, kalau kita (pelajar dan mahasiswa) tidak
menjadi agen perubahan bagi alam dan manusia Papua berarti kita siap
memikul dosa. Kenapa? Karena, apabila generasi kita juga masih saja
hidup dalam tekanan, penindasan, dan penjajahan berarti kita telah gagal
atau belum mampu mewujudkan Firman Allah yang mengatakan “manusia harus hidup bebas di atas bumi”.
Maka itu. sebagai generasi muda Papua janganlah memakai topeng
penjajahan, jangalah menjadi kaki tangan dari penjajahan karena alam
Papua masih menyaksikan dirimu, manusia Papua masih melihat dirimu,
tulang belulang Papua masih melihat dirimu, dan mata hari serta bulan
dan bintang juga masih menyaksikan dirimu.
Revolusi ada di tangan pelajar dan mahasiswa maka, jangalah mengambil
dan memakai topeng penjajahan yang sedang ditawarkan dengan tingginya
nilai mata uang. Stop bertopeng dan mari bersatu mengusir penjajahan di
atas bumi Papua sebab bumi Papua itu diciptakan oleh ALLAH untuk manusia
Papua bisa hidup dengan besas. Dalam kebebasan itulah manusia Papua
bisa berekspresikan hidupnya dan bisa berkarya demi kemulian nama ALLAH
Sendiri.
REPORTER OF TIMIPOTU NEWS