Support From West Melanesia Independence For Free West Papua, Maluku, and Flores. Diberdayakan oleh Blogger.
Hai, Anak Muda Melanesia Barat, Membaca & Menulislah ! " Jika umurmu Tak Sepanjang Umur Bumi, Sambunglah Dengan Tulisan " !
Tampilkan postingan dengan label Melanesians. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Melanesians. Tampilkan semua postingan

, , , , , , , , , ,

Oposisi Fiji Mengumumkan Mendukung Papua Merdeka

Selamat datang di Melanesia Barat ! Melanesia adalah tempat khusus di Pasifik yang memiliki sesuatu untuk semua orang. Kaya akan sumber daya dan dengan banyaknya orang yang kaya dan beragam budaya, adat istiadat, ritual, mitos dan legenda, negara-negara Melanesia yang layak dikunjungi.

Oposisi Fiji Mengumumkan Mendukung Papua Merdeka

Juru bicara oposisi keuangan Biman Prasad dan Pemimpin oposisi Ro Teimumu Kepa saat jumpa pers di kantor Oposisi. Gambar: KIMBERLEY SACHS.

Fiji, Megaphone PAPUA - Partai Oposisi Fiji mengumumkan mendukung West Papua Merdeka dan akan mendorong Pemerintah Fiji untuk mendukung suara Rakyat Melanesia di West Papua. Ro Teimumu Kepa mengatakan Orang West Papua telah bertahun-tahun berada dalam teror oleh Indonesia selama bertahun-tahun.

Beliau juga dalam beberapa hari ke depan akan mencoba melaporkan dan menceritakan kepada Pemerintah Fiji beberapa kejadian yang belakangan menimpa masyarakat West Papua oleh Indonesia, juga mengharapkan pihak yang berwenang untuk menekan Indonesia atas pelanggaran HAM di West Papua.

"Kami berharap pihak yang berwenang untuk bertindak dan meminta pertanggungjawaban Pemerintah Indonesia atas tindakan kebencian dan terorisme dilakukan terhadap rakyat Papua Barat," kata Ro Teimumu kepada wartawan Fiji Times.[Athy Antary/WMNews]

Publisher: MELANESIA POST - 02.52
, , , , , , , ,

SOLIDARITAS PEREMPUAN MELANESIA NEGARA BAGIAN DOBERAY

 photo WMNews_zpsb7f74396.jpgSelamat datang di Melanesia Barat ! Melanesia adalah tempat khusus di Pasifik yang memiliki sesuatu untuk semua orang. Kaya akan sumber daya dan dengan banyaknya orang yang kaya dan beragam budaya, adat istiadat, ritual, mitos dan legenda, negara-negara Melanesia yang layak dikunjungi.

Dalam semua moment kita pakai untuk terus kampanye kemerdekaan Papua Barat. Pada tanggal, 31 Januari 2013, kemarin sore SOLIDARITAS PEREMPUAN MELANESIA NEGARA BAGIAN DOBERAY ikut lomba gerak jalan dalam rangka perayaan HUT PI di tanah Papua. Mereka menggunakan baju kaos dengan gambar morning star flag kombinasi gambar yesus dengan tulisan MANSEREN BLESS PAPUA didepan dan belakang lambang salib dan tulisan Solidaritas Perempuan Melanesia Papua Barat, negara bagian Doberay.
SOLIDARITAS+PEREMPUAN+MELANESIA+(1)

SOLIDARITAS+PEREMPUAN+MELANESIA+(10)

SOLIDARITAS+PEREMPUAN+MELANESIA+(2)

SOLIDARITAS+PEREMPUAN+MELANESIA+(5)

SOLIDARITAS+PEREMPUAN+MELANESIA+(3)

SOLIDARITAS+PEREMPUAN+MELANESIA+(4)

SOLIDARITAS+PEREMPUAN+MELANESIA+(6)

SOLIDARITAS+PEREMPUAN+MELANESIA+(7)

SOLIDARITAS+PEREMPUAN+MELANESIA+(8)

SOLIDARITAS+PEREMPUAN+MELANESIA+(9)

SOLIDARITAS+PEREMPUAN+MELANESIA

Semangat Gerakan Kemerdekaan Papua Barat tidak saja ada pada orang dewasa Papua Barat, tetapi anak2 pun mereka melakukan hal yang sama. Komunitas Anak-anak West Papua (Komunitas AWEPA) adalah organisasi yang didirikan untuk mengorganisir anak2 Papua maupun non Papua usia SD, SMP dan SMA guna terlibat dalam mendorong semangat kemerdekaan Papua Barat. Dalam sejumlah moment di Manokwari Komunitas AWEPA selalu terlibat dan selalu tampil dengan atribut keramat Papua Barat. Hal lain lagi adalah mereka sangat kreatif, inisiatif dan sangat nasionalis Papua Merdeka. M

Komunitas+AWEPA+(2)

Komunitas+AWEPA+(1)

Komunitas+AWEPA

 Sumber foto posted by @Marthen.M

Publisher: Unknown - 00.00
, , , , , , ,

WEST MELANESIA SOLIDARITY FOR WEST PAPUA

 photo WMNews_zpsb7f74396.jpgSelamat datang di Melanesia Barat ! Melanesia adalah tempat khusus di Pasifik yang memiliki sesuatu untuk semua orang. Kaya akan sumber daya dan dengan banyaknya orang yang kaya dan beragam budaya, adat istiadat, ritual, mitos dan legenda, negara-negara Melanesia yang layak dikunjungi. 

WEST MELANESIA SOLIDARITY FOR WEST PAPUA
Publisher: Unknown - 23.32
, , , , , , , , , , ,

MITOLOGI MELANESIAN

Selamat datang di Melanesia ! Melanesia adalah tempat khusus di Pasifik yang memiliki sesuatu untuk semua orang. Kaya akan sumber daya dan dengan banyaknya orang yang kaya dan beragam budaya, adat istiadat, ritual, mitos dan legenda, negara-negara Melanesia yang layak dikunjungi.




 MITOLOGI MELANESIAN

Masyarakat Melanesia tidak memiliki jenis stratifikasi sosial khas Polynesia, di mana kaum bangsawan yang memiliki kepentingan dalam membangun keturunan mereka dari para dewa. Khas Melanesia, jika orang tersebut ada, tidak peduli dengan dewa hirarki juga tidak mitologi nya terungkap urutan penciptaan.

Di banyak bagian Melanesia, khususnya Hebrides Baru (Vanuatu), gangguan-gangguan Eropa berlangsung dengan campuran yang sama kebrutalan dan ketidakpedulian yang menandai proses lain di Pasifik. Di tempat lain, terutama di New Guinea, pertemuan itu lebih bertahap dan bahkan saat ini ada masyarakat terpencil di mana kontak tetap minimal. Dalam komunitas ini, cara hidup orang-orang yang telah hampir tidak tersentuh oleh cara orang Eropa, dan mitos mereka terus memperkuat ikatan yang rumit antara mereka dan alam di mana kelangsungan hidup mereka tergantung.

Namun sistem mitologi tersebut tidak statis; mereka mencerminkan perubahan sosial terbatas yang terjadi terus menerus di semua masyarakat tidak peduli seberapa terisolasi. Dalam banyak masyarakat Melanesia lainnya yang berada dalam masa transisi dan telah dipengaruhi oleh kontak dengan budaya sebagai sangat berbeda dengan Eropa, mitos memiliki peran yang dinamis sebagai aksesori untuk perubahan sosial. Upaya untuk menjelaskan orang-orang kulit putih datang dan budaya material atasannya sering didasarkan pada hal-hal mitologi kuno.

Sebelum kedatangan Eropa, pengetahuan Melanesia di dunia jarang melampaui tetangganya dengan siapa ia diperdagangkan dan berjuang. Di antara Arapesh semi-nomaden yang tinggal di pegunungan di sebelah utara Sungai Sepik, dunia samar-samar dianggap sebagai sebuah pulau. The Busama pesisir Teluk Huon melihat wilayah mereka sebagai pusat dunia yang berbentuk seperti piring terbalik, dan percaya bahwa siapa pun yang melakukan perjalanan di luar wilayah tetangga harus memanjat kubah langit yang "padat seperti ilalang".

The Trobian Kepulauan, yang pelaut baik dan mengambil bagian dalam ekspedisi perdagangan luar negeri yang luas, memiliki pandangan dunia yang lebih luas yang mencakup beberapa ratus mil persegi lautan yang mereka sebut Pilolu. Di luar ini, di sebelah selatan dan barat, adalah tanah orang dengan sayap dan orang-orang dengan ekor; ke utara mereka tahu samar-samar dari negara orang biasa - mungkin New Britain - dan tanah sangat berbahaya lain, pulau perempuan.

Setiap komunitas kecil memiliki cara unik sendiri dalam memandang dunia. Masing-masing memiliki Coterie sendiri makhluk mitologis yang namanya jarang dikenal di luar perbatasannya. Kelompok hybrid paling awal di Papua New Guinea, Papua, sebagian besar ditemukan di daerah barat pantai selatan New Guinea dan di bagian interior. Sebuah hamburan elemen Papua, termasuk bahasa, yang ditemukan di beberapa pulau-pulau terdekat serta di New Britain dan New Ireland dan Solomon Utara. Campuran Papuo-Melanesia mendominasi arah ekstremitas timur New Guinea dan kepulauan kecil tetangga. Yang lebih bergerak selatan lebih elemen mendominasi yang bisa disebut Melanesia, meskipun perbedaan dapat dibuat antara masyarakat pesisir dan semak.

Masyarakat Melanesia tidak memiliki jenis stratifikasi sosial khas Polynesia, di mana kaum bangsawan yang memiliki kepentingan dalam membangun keturunan mereka dari para dewa. Khas Melanesia, jika orang tersebut ada, tidak peduli dengan dewa hirarki juga tidak mitologi nya terungkap sebuah sekuen penciptaan. Jadi membumi dia bahwa dia mengabaikan hampir sepenuhnya lebih "tinggi" tema yang mengilhami mitos Polinesia dan Mikronesia. Dia tidak begitu banyak peduli dengan asal-usul semua orang seperti asal unitnya sendiri sosial, klan dan bagian atau totem nya. Pengetahuan ini menetapkan identitas dan mendefinisikan modus nya perilaku; menentukan siapa yang dia sebut saudara, dan orang yang dapat menikah dan orang-orang muda untuk siapa ia bertanggung jawab.
Publisher: Unknown - 21.40
, , ,

Kepercayaan tentang asal-usul manusia

Selamat datang di Melanesia Barat ! Melanesia adalah tempat khusus di Pasifik yang memiliki sesuatu untuk semua orang. Kaya akan sumber daya dan dengan banyaknya orang yang kaya dan beragam budaya, adat istiadat, ritual, mitos dan legenda, negara-negara Melanesia yang layak dikunjungi.

IN THE BEGINNING: THE PREDECESSORS OF MEN

Melanesian's cosmological beliefs tend to be vague and unformulated but most Melanesians do conceive of a time in the "beginning" when mythical beings dwelt on earth. In some places, these primal beings came from the sky, in other places they emerged from underground or merely came from somewhere else. The world was seen as apparently already in existence and they did play a part in shaping it. Sometimes, this included raising the sky. Almost always it included making or releasing the sea. The Iatmul of the Sepik River area say that the dry land was created when a spirit put his foot upon mud.  

Belief about man's origins were many and varied. Some myths say he came into the world fully grown either from the sky or from underground or was released from a tree. Other myths say he was created from clay or sand or that he was carved from wood. These mythical beings who acted as creators were not the sole creators, for each clan or sub-clan within the group had its own view. For example, some Kiwaians believed that their "father" was the crocodile and a modern account of the story had been written by Mea Idei from Boze near the Binaturi River. He tells how a being called Ipila carved a human figure out of wood and brought it to life by painting the face with sago milk. First the eyes open, then the nostrils quivered and the "man" made a noise like a crocodile. His name was Nugu but he was not satisfied until Ipila made three more men as companions for him. These men refused to learn the things Ipila wanted to teach them and turned their backs on him. After a while, two of them became tired of only eating sago and started to kill animals for food. Almost at once, they turned into half-crocodiles. Neither the animals nor Nugu and the other man wanted any more to do with them so they tried to make some of their own kind. But they found that they could only make men because Ipala sequently altered their work. From these new men are descended the people who claim the crocodile as their father. Ipala was so angry with his first creation, Nugu, that he condemned him to hold the earth on his shoulders for ever. The narrator concludes that these events explain why his people only know what they know - not why they are alive, nor what is happening beyond their part of the world.    

The Keraki Papuans of the southwest coast often say that there is a sky world from which the first beings came - these were called Gainjin. All agree that they went back into the sky when their time on earth was finished. The exception was the two Gainjin animals, Bugal the snake and Warger the crocodile, who still haunt the bush. An excess of rain is regarded by the villagers as a sign that the sky beings are displeased. They fear that the great rattan cane which supports this aerial world will one day break, so during heavy storms they stand ready to defend themselves in case any of the sky beings should tumble down. 

There are many stories about how man was released from a tree. There are two Keraki mythologies, each associated with its own sacred site, and in one of the Kuramangu stories a sky being, Kambel, was curious about the unintelligible sound which issued from a palm tree and he cut it down, releasing the people. In the evening, a shiny white object rose from the palm and slipped from his grasp into the sky. It was his son, the moon. (Both father and son are associated with the moon). 

There are also many stories about how man emerged from underground. The northern Massim area is a relatively homogenous cultural grouping and there it is believed that the life which existed below ground was exactly like the one above, so that the people who emerged brought with them the rules governing conduct as well as the knowledge of special skills and magic lore.  Among the Trobiand Islanders, for example, each small sub-clan had an ancestress who emerged with her brother from a particular spot sighted in a grove grotto lump of coral or rock. With each of these hole of emergence were associated certain territories including garden land and seashore so that each particular myth determined land usage and inheritance. One particular site on the peninsula of Kirawina was especially renowned because from it came the first creatures to emerge on earth. They were the iguana, the dog, the pig and the snake - the animal ancestors of the four principal clans. 

The central characters in a number of Melanesian myths are two brothers, who, although they have different names from place to place tend to be associated with the same mythological theme. They often share the laurels in Ogre-killing stories but sometimes victory is achieved because of one's brother's superior strength and astuteness. In other stories it is this very difference between the brothers' abilities which determines the outcome of events. 

In a tale from Mekeo in New Guinea, one brother only has fruit to eat while the other eats meat. The former spies on the latter, and sees him enter a hill which opens at his command and then closes it behind you. A little later he emerges with a wallaby and two scrub hens. When the foolish brother tries to do the same thing, he was too slow and all the animals escape. The two brothers begin to fight but their wives separate them and send them off to fight an ogre instead.


One of the great heroes of the Kiwai Papuans was Marunogere. Before he taught them how to build their great communal houses - some exceed 300 feet in length - they lived in miserable holes in the ground. As soon as the first ceremonial house was built, he inaugurated it with a moguru or life-giving ceremony, which also aims at making men great fighters. The ritual with a dead pig did make the men great warriors and it was re-enacted yearly in the moguru when young boys crawl over the corpse of a wild boar decked out in the finery of a fighter. Marunogere also bored a hole in each woman to give her sexual organs and in the evening he was content to die after he felt the gentle rocking of the great house as the men and women were locked in the first sexual embrace. This part of the myth provided the sanction for the ritual initiation, during the moguru of the young boys and girls into adult sexual life. 

For the Melanesians, the bush and sea around him is made dangerous by a great variety of supernatural emanation. There are special ghosts like those of beheaded men whose wounds glow in the dark. There are also the spirits doubles of living men. The mountain Kukukukus of New Guinea tell how a boy was approached by a spirit with the face of his mother's brother, who pierced his nose septum and inserted a bush fowl's bone. His real uncle found him and took him home. It was noticed soon after that he became a great fighter, so henceforth initiation included the nose piercing ceremony.
Publisher: Unknown - 21.24
, , , , , , , , , ,

SEJARAH SINGKAT NUSA TENGGARA TIMUR (FLORES)

SEJARAH SINGKAT NTT

Pada masa sesudah tahun 1900, kerajaan-kerajaan yang ada di Nusa Tenggara Timur pada umumnya telah berubah status menjadi status menjadi Swapraja. Swapraja-swapraja tersebut, 10 berada di Pulau Timor ( Kupang, Amarasi, Fatuleu, Amfoang, Molo, Amanuban, Amanatun, Mio mafo, Biboki, Insana) satu di pulau Rote, satu di pulau Sabu, 15 di pulau Sumba ( Kanatang, Lewa-Kanbera, Takundung, Melolo, Rendi Mangili, Wei jelu, Masukaren, Laura, Waijewa, Kodi-Laula, Membora, Umbu Ratunggay, Ana Kalang, Wanokaka, Lambaja), sembilan di pulau Flores (Ende, Lio, Larantuka, Adonara, Sikka, Angada, Riung, Nage Keo, Manggarai), tujuh di pulau Alor-Pantar (Alor, Baranusa, Pantar, Matahari Naik, Kolana, Batu lolang, Purema).

Swapraja-swapraja tersebut terbagi lagi menjadi bagian-bagian yang wilayahnya lebih kecil. Wilayah-wilayah kecil itu disebut Kafetoran-kafetoran.

Zaman Pemerintahan Hindia Belanda


Wilayah Nusa Tenggara Timur pada waktu itu merupakan wilayah hukum dari keresidenan Timor dan daerah takluknya. Keresidenan Timor dan daerah bagian barat (Timor Indonesia pada waktu itu, Flores, Sumba, Sumbawa serta pulau-pulau kecil sekitarnya seperti Rote, Sabu, Alor, Pantar, Lomblen, Adonara, Solor).
Keresidenan Timor dan daerah takluknya berpusat di Kupang, yang memiliki wilayah terdiri dari tiga affdeling (Timor, Flores, Sumba dan Sumbawa), 15 onderafdeeling dan 48 Swapraja. Afdeeling Timor dan pulau-pulau terdiri dari 6 onderafdeeling dengan ibukotanya di Kupang. Afdeeling Flores terdiri dari 5 onder afdeeling dengan ibukotanya di Ende. Yang ketiga adalah Afdeeling Sumbawa dan Sumba dengan ibukota di Raba (Bima). Afdeeling Sumbawa dan Sumba ini tediri dari 4 oder afdeeling.

Keresidenan Timor dan daerah takluknya dipimpin oleh seorang residen, sedangkan afdeeling di pimpin oleh seorang asisten residen. Asisten residen ini membawahi Kontrolir atau Controleur dan Geraghebber sebagai pemimpin Onder afdeeling. Asisten residen , kontrolir dan gezaghebber adalah pamong praja Kolonial Belanda. Para kepala onder afdeeling yakni kontrolir dibantu oleh pamong praja bumi putra ber pangkat Bestuurs assistant. (Ch. Kana, 1969,hal . 49-51).

Zaman Pendudukan Jepang (1942-1945)

Pada tanggal 8 Maret 1942 komando angkatan perang Belanda di Indonesia menyerah tanpa syarat kepada Jepang. Dengan demikian secara resmi Jepang menggantikan Belanda sebagai pemegang kekuasaan di Indonesia. Untuk Indonesia bagian timur termasuk wilayah Indonesia. Bagian Timur wilayah NTT berada di bawah kekuasaan angkatan laut Jepang (Kaigun) yang berkedudukan di Makasar. Adapun dalam rangka menjalankan pemerintahan di daerah yang diduduki Kaigun menyusun pemerintahannya. Untuk wilayah Indonesia bagian Timur dikepalai oleh Minseifu yang berkedudukan di Makasar. Di bawah Minseifu adalah Minseibu yang untuk daerah Nusa Tenggara Timur termasuk ke dalam Sjoo Sunda Shu (Sunda Kecil) yang berada di bawah pimpinan Minseifu Cokan Yang berkedudukan di Singaraja.

Disamping Minseibu Cokan terdapat dewan perwakilan rakyat yang disebut Syoo Sunda Sukai Yin. Dewan ini juga berpusat di Singaraja. Diantaranya anggota dewan ini yang berasal dari Nusa Tenggara Timur adalah raja Amarasi H.A. Koroh dan I.H. Doko. Untuk pemerintahan di daerah-daerah nampaknya tidak banyak mengalami perubahan, hanya istilah-istilah saja yang diruba. Bekas wilayah afdeeling dirubah menjadi Ken dan di NTT ada tiga Ken yakni Timor Ken, Flores Ken dan Sumba Ken. Ken ini masing-masing dikepalai oleh Ken Kanrikan. Sedangkan tiap Ken terdiri dari beberapa Bunken (sama dengan wilayah onder afdeeling) yang dikepalai dengan Bunken Karikan. Di bawah wilayah Bunken adalah swapraja-swapraja yang dikepalai oleh raja-raja dan pemerintahan swapraja ke bawah sampai ke rakyat tidak mengalami perubahan.

Zaman Kemerdekaan (1945-1975).

Setelah Jepang menyerah, Kepala Pemerintahan Jepang (Ken Kanrikan) di Kupang memutuskan untuk menyerahkan pemerintahan atas Kota Kupang kepada tiga orang yakni Dr.A.Gakeler sebagai walikota, Tom Pello dan I.H.Doko. Namun hal ini tidak berlangsung lama, karena pasukan NICA segera mengambil alih pemerintahan sipil di NTT, dimana susunan pemerintahan dan pejabat-pejabatnya sebagian besar adalah pejabat Belanda sebelum perang dunia II. Dengan demikian NTT menjadi daerah kekuasaan Belanda lagi, sistem pemerintahan sebelum masa perang ditegakkan kembali. Pada tahun 1945 kaum pergerakan secara sembunyi-sembunyi telah mengetahui perjuangan Republik Indonesia melalui radio. Oleh karena itu kaum pegerakan menghidupkan kembali Partai Perserikatan Kebangsaan Timor yang berdiri sejak tahun 1937 dan kemudian berubah menjadi Partai Demokrasi Indonesia (PDI).

Perjuangan politik terus berlanjut, sampai pada tahun 1950 dimulai pase baru dengan dihapusnya dewan raja-raja. Pada bulan Mei 1951 Menteri Dalam Negeri NIT mengangkat Y.S. Amalo menjadi Kepala Daeraah Timor dan kepulauannya menggantikan H.A.Koroh yang wafat pada tanggal 30 Maret 1951. Pada waktu itu daerah Nusa Tenggara Timur termasuk dalam wilayah Propinsi Sunda Kecil.

Berdasarkan atas keinginan serta hasrat dari rakyat Daerah Nusa Tenggara, dalam bentuk resolusi, mosi, pernyataan dan delegasi-delegasi kepada Pemerintahan Pusat dan Panitia Pembagian Daerah yang dibentuk dengan Keputusan Presiden No.202/ 1956 perihal Nusa Tenggara, pemerintah berpendapat suda tiba saatnya untuk membagi daerah Propinsi Nusa Tenggara termasuk dalam Peraturan Pemerintahan RIS no. 21 tahun 1950, (Lembaran Negara RIS tahun 1950 No.59) menjadi tiga daerah tingkat I dimaksud oleh undang-undang No.I tahun 1957. Akhirnya berdasarkan undang-undang No.64/1958 propinsi Nusa Tenggara di pecah menjadi Daerah Swa tantra Tingkat I Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Daerah Tingkat I Nusa Tenggara Timur meliputi daerah Flores, Sumba dan Timor.

Berdasarkan undang-undang No.69/ 1958 tentang pembentukan daerah-daerah Tingkat II dalam wilayah Daerah Tingkat I Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, maka daerah Swa tantra Tingkat I Nusa Tenggara Timur dibagi menjadi 12 Daerah Swatantra Tingkat II ( Monografi NTT, 1975, hal. 297). Adapun daerah swatantra tingkat II yang ada tersebut adalah : Sumba Barat, Sumba Timur, Manggarai, Angada, Ende, Sikka, Flores Timur, Alor, Kupang, Timo Tengah Selatan, Timor Tengah Utara dan Belu.
Dengan keluarnya Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Daswati I Nusa Tenggara Timur tertanggal 28 Februari 1962 No.Pem.66/1/2 yo tanggal 2 juli 1962 tentang pembentukan kecamatan di Daerah Swatantra Tingkat I Nusa Tenggara Timur, maka secara de facto mulai tanggal 1Juli 1962 swapraja-swapraja dihapuskan (Monografi NTT, Ibid, hal. 306). Sedangkan secara de jure baru mulai tanggal 1 September 1965 dengan berlakunya undang-undang no. 18 tahun 1965 tentang pokok-pokok pemerintahan daerah. Pada saat itu juga sebutan Daerah Swatantra Tingkat I Nusa Tenggara Timur dirubah menjadi Propinsi Nusa Tenggara Timur, sedangkan Daerah Swatantra Tingkat II dirubah menjadi Kabupaten.

Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Nusa Tenggara Timur di Kupang, tanggal 20 Juli 1963 No.66/1/32 mengenai pembentukan kecamatan , maka Propinsi Nusa Tenggara Timur dengan 12 Daerah Tingkat II dibagi menjadi 90 kecamatan dan 4.555 desa tradisional, yakni desa yang bersifat kesatuan geneologis yang kemudian dirubah menjadi desa gaya baru.

Pada tahun 2003 wilayah Propinsi Nusa Tenggara Timur terdiri dari 16 Kabupaten dan Satu Kota . Kabupaten-kabupaten dan Kota tersebut adalah : Sumba Barat, Sumba Timur, Kupang, Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara , Belu, Alor, Lembata, Flores Timur, Sikka, Ende, Angada, Manggarai, Rote Ndao, Manggarai Barat dan Kota Kupang. Dari 16 Kabupaten dan satu kota tersebut terbagi dalam 197 kecamatan dan 2.585 desa/kelurahan.

(Disarikan dari buku ” Sejarah Daerah Nusa Tenggara Timur ” Proyek Penelitian dan Pencetakan Kebudayaan Daerah 1977/1978).

Apa Benar Begitu ? Mohon Masukannya untuk meluruskan sejarahnya. Thanks.
Publisher: MELANESIA POST - 02.12
, , , , ,

RMS dan Terorist

RMS dan Terorist

RMS MALUKUArtikel ini ada relevansinya dengan artikel saya sebelumnya bahwa dunia barat terutama Amerika dan Israel selalu bermain di negeri ini agar Wilayah Kesatuan Republik Indoneisia ini bercerai berai. Dengan Uangnya yang mereka raup di negeri ini mereka sogokan atau kongkalikongkan dgn Aparat Penegak Hukum dan Pemerintahan kita yang rata-rata telah gelap mata dgn UANG. Mereka sdh tak berfikir dgn jernih lagi bahwa duit yg disogokan itu seungguhnya adalah duit dari kita. Para aparat keamana dan pemerintahan kita lupa bahwa apa yang mereka lakukan kelak juga sesungguhnya akan mencelakakan Anak Cucunya sendiri.



Kerusuhan yang selalu terjadi di negeri ini baik itu dilakukan oleh warga dengan warga atau aparat dengan warga sudah diseting sedemikian rupa agar gejolak atau kerusuhan tersebut timbul dari permasalahan-permasalahan yang biasa. Karena cara pandang masyarakat kita yang mudah terprovokasi dengan hal-hal yang sepele dan temprament yg mudah begitu saja timbul. Inilah yang di harapkan oleh mereka dengan keadaan mental masyarakat kita yang kebanyakan siqisnya demikian sehingga mudah untuk di provokasi. Kondisi masyaakat kita yang dibuat menderita oleh Pemeintahan yang sedang berkuasa menjadikan konflik mudah tersulut, rakyat hanya dijadikan kuli di negerinya sendiri sedangkan warga negara pendatang yang nenek moyangnya tidak pernah ikut berjuang dlm Kemerdekaan di negeri ini dengan bebas berinvestasi akan kekayaan alam tanpa ada pengetatan Regulasinya. Karena ini sesungguhnya sudah sangat jelas melanggar UUD 45 dan hal-hal yang bisa terjadinya timbul atau menyalahgunakan kekuasaanya beberap bulan kemarin sudah di bubarkan oleh Mahkamah Konstitusi, akan tetapi entah oleh Penguasa Pemerintahan sekarang ini kemudian diganti baju???

Dengan segudang argumentasi bahwa kita butuh pengurangan pengangguran, agar masyarakat kita bisa bekerja. Inilah hal yang teramat bodoh yang dilakukan oleh Pemerintahan dari jaman Soeharto sampai yang sekarang berkuasa. Justru inilah yang akan membuat rakyat kita kian sengsara, kenapa kita tidak pernah mendayagunakan penduduk setempat agar bisa menjadi pengusaha-pengusaha yang handal yang bisa mengelola kekayaan Alam di tanah leluhurnya dengan baik. Kenapa kita selalu mengundang Perusahan-perusahan asing? Ya tidak usah dijawab tentu kita semua sudah punya jawabanya. Selain itu pemerintah juga sangat senang untuk selalu membodohi masyaraktnya dalam segala hal. Ini yang kian memperparah kondisi yang ada.

Orang-orang barat dibawah kepemimpinan Amerika dan sekutu-sekutunya selalu meagung-agungkan tentang HAM, Demokrasi, Terorist, dan Nuklir. Tetapi apa yang sesungguhnya yang terjadi, justru mereka sendirilah yang tidak punya konsekuensinya sendiri. Masalah Demokrasi (hal ini belum pernah saya bahas di blog ini) saja justru Amerika tidak menerapkannya secara utuh, warganya yang mengkritik pemerintah langsung mereka tangkap dan diadili apalagi hal yang lainnya. Sedangkan masalah lainnya di blog ini sebelum-sebelumnya sering saya tuliskan. Sedikit menyinggung tentang HAM (walo diblog ini sudah dijelaskan), dimana ketika umat Islam teraniyaya di bantai entah itu yang terjadi di dalam Negeri Indonesia atau di luar negeri tidak ada entah itu lembaga HAM Indonesia atau HAM Dunia yang berteriak lantang. Bahkan Amerika dan sekutu-sekutunyapun tidak mau menyebut Terorist, karena sesungguhnya mereka sendirilah yang terorist sejati. Inilah Politik ampuh mereka dalam mengelabui cara pandang tentang terorist dsb. Untuk Lebih jelasnya silakan baca disini.

Maka tidak heran kalo mereka mau mengelontorkan uangnya di negeri ini dgn berbagai macam taktik dan tehniknya untuk menyikat habis gerakaan-gerakan Islam yang diaggapnya membahayakan. Dan kenapa para biokrat kita yang notabene orang Islam mau-mau saja mengamini setiap apa saja yang dikehendaki Amerika dan sekutu-sekutunya?? Tidak lain dan tidak bukan adalah Uang.

Agar artikel ini sesuai dengan judulnya dan tidak salah persepsi maka dilain hari akan saya uraikan sambungannya, kalo saya deskripsikan secara menyeluruh tentunya akan memakan banyak ruang dan waktu. Mungkin hanya 3-4 bagian saja yang bisa saya uraiakan sebagai sambungannya dari artikel ini. Tujuan saya yang utama hanyalah agar Indonesia yang kita cintai ini selalu Damai tidak mudah dipecah belah dan diadu domba karena ujung-ujungnya kita sendirlah yang akhirnya akan Rugi dan menderita. Semisal dirikita membunuh pasti dilain waktu akan terjadi juga pada keluarga kita atau bahkan diri kita, hanya saja terjadinya soal menunggu waktu saja.
Publisher: Unknown - 09.15
, , , , , , ,

Geng Motor SATUDARAH MALUKU di Belanda

Mungkin banyak yang belum mengetahui bahwa ada Geng Motor besar di Belanda yang berasal dari Maluku yang mempunyai peranan di Belanda dan sangat di segani disana.

SATUDARAH MALUKU itu lah yang terpampang di rompi kulit mereka, apakah mereka membawa nama Indonesia… Tidak mereka tidak membawa nama Indonesia.

Mereka lebih sering membawa bendera RMS setiap ada acara di Belanda, di Belanda SATUDARAH sudah sejajar dengan Hels Angels karena mereka sering membuat keributan dan meresahkan warga di belanda (Cuplikan Video saat penangkapan beberapa anggota SATUDARAH di belanda klik disini)

Mereka juga mempunyai website resmi http://www.satudarahmc.nl
Inilah sebagian dari foto-foto yang saya dapat dari situs berita di Belanda.
SATUDARAH mengibarkan bendera RMS
Burn out di tengah jalan
Satu Darah MC
Satu Darah MC
Satu Darah MC
Satu Darah MC
Nah ini Basecampnya
Gimana rekan-rekan dan sahabat semua monggo di tunggu komentarnya…
Lampiran video dan berita-berita satudarah di Belanda
 
Publisher: Unknown - 08.19
, , , , ,

Sejarah Terbentuknya Republik Maluku Selatan (RMS)

Sejarah Terbentuknya Republik Maluku Selatan (RMS)

Republik Maluku Selatan (RMS) adalah daerah yang diproklamasikan merdeka pada 25 April 1950 dengan maksud untuk memisahkan diri dari Negara Indonesia Timur (saat itu Indonesia masih berupa Republik Indonesia Serikat).

Namun oleh Pemerintah Pusat, RMS dianggap sebagai pemberontakan dan setelah misi damai gagal, maka RMS ditumpas tuntas pada November 1950. Sejak 1966 RMS berfungsi sebagai pemerintahan di pengasingan, Belanda.

Pada 25 April 1950 RMS hampir/nyaris diproklamasikan oleh orang-orang bekas prajurit KNIL dan pro-Belanda yang diantaranya adalah Chr. Soumokil bekas jaksa agung Negara Indonesia Timur yang kemudian ditunjuk sebagai Presiden, Ir. J.A. Manusama dan J.H. Manuhutu.

Pemerintah Pusat yang mencoba menyelesaikan secara damai, mengirim tim yang diketuai Dr. Leimena sebagai misi perdamaian ke Ambon. Tapi kemudian, misi yang terdiri dari para politikus, pendeta, dokter dan wartawan, gagal dan pemerintah pusat memutuskan untuk menumpas RMS, lewat kekuatan senjata. Dibentuklah pasukan di bawah pimpinan Kolonel A.A Kawilarang.Pada 14 Juli 1950 Pasukan ekspedisi APRIS/TNI mulai menumpas pos-pos penting RMS. Sementara, RMS yang memusatkan kekuatannya di Pulau Seram dan Ambon, juga menguasai perairan laut Maluku Tengah, memblokade dan menghancurkan kapal-kapal pemerintah.

Pemberontakan ini berhasil digagalkan secara tuntas pada bulan November 1950, sementara para pemimpin RMS mengasingkan diri ke Belanda. Pada 1951 sekitar 4.000 orang Maluku Selatan, tentara KNIL beserta keluarganya (jumlah keseluruhannya sekitar 12.500 orang), mengungsi ke Belanda, yang saat itu diyakini hanya untuk sementara saja.

RMS di Belanda lalu menjadi pemerintahan di pengasingan. Pada 29 Juni 2007 beberapa pemuda Maluku mengibarkan bendera RMS di hadapan Presiden Susilo Bambang Yudhono pada hari keluarga nasional di Ambon. Pada 24 April 2008 John Watilette perdana menteri pemerintahan RMS di pengasingan Belanda berpendapat bahwa mendirikan republik merupakan sebuah mimpi di siang hari bolong dalam peringatan 58 tahun proklamasi kemerdekaan RMS yang dimuat pada harian Algemeen Dagblad yang menurunkan tulisan tentang antipati terhadap Jakarta menguat.

Tujuan politik RMS sudah berlalu seiring dengan melemahnya keingingan memperjuangkan RMS ditambah tidak adanya donatur yang bersedia menyisihkan dananya, kini hubungan dengan Maluku hanya menyangkut soal sosial ekonomi. Perdana menteri RMS (bermimpi) tidak menutup kemungkinan Maluku akan menjadi daerah otonomi seperti Aceh Kendati tetap menekankan tujuan utama adalah meraih kemerdekaan penuh.

Pemimpin pertama RMS

Pemimpin pertama RMS dalam pengasingan di Belanda adalah Prof. Johan Manusama, pemimpin kedua Frans Tutuhatunewa turun pada tanggal 25 april 2009. Kini John Wattilete adalah pemimpin RMS pengasingan di Belanda.

Dr. Soumokil mengasingkan diri ke Pulau Seram. Ia ditangkap di Seram pada 2 Desember 1962, dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan militer, dan dilaksanakan di Kepulauan Seribu, Jakarta, pada 12 April 1966.

RMS didukung Belanda

Oleh karena kemerdekaan RMS yang di Proklamirkan oleh sebagian besar rakyat Maluku, pada tanggal 24 April 1950 di kota Ambon, ditentang oleh Pemerintah RI dibawah pimpinan Sukarno - Hatta, maka Pemerintah RI meng-ultimatum semua para aktifis RMS yang memproklamirkan berdirinya Republik Maluku Selatan untuk menyerahkan diri kepadda pemerintah RI, sehingga semua aktifis RMS itu ditangkapi oleh Pasukan2 Militer yang dikirim dari Pulau Jawa.

Karena adanya penangkapan yang dilakukan oleh militer Pemerintah RI, maka para pimpinan teras RMS tersebut, ber-inisiatif untuk menghindar sementara ke Negeri Belanda, kepindahan para pimpinan RMS ini mendapat bantuan sepenuhnya dari Pemerintah Belanda pada saat itu.

Dengan adanya kesediaan bantuan dari Pemerintah Belanda untuk mengangkut sebagian besar rakyat Maluku dengan biaya sepenuhnya dari Pemerintah Belanda, maka sebagian besar rakyat di Maluku memilih dengan kehendaknya sendiri untuk pindah ke Negeri Belanda. Pada waktu itu, Ada lebih dari 15.000 rakyat Maluku yang memilih pindah ke negeri Belanda.

Pindahnya sebagian rakyat maluku ini, oleh Pemerintahan Sukarno-Hatta, diissukan sebagai "PENGUNGSIAN PARA PENDUKUNG RMS", lalu dengan dalih pemberontakan, pemerintah RI menangkapi para Menteri RMS dan para aktifisnya, lalu mereka dipanjarakan dan diadili oleh pengadilan militer RI, dengan hukuman berat bahkan dieksekusi Mati.

Di Belanda, Pemerintah RMS tetap menjalankan semua kebijakan Pemerintahan, seperti Sosial, Politik, Keamanan dan Luar Negeri. Komunikasi antara Pemerintah RMS di Belanda dengan para Menteri dan para Birokrat di Ambon berjalan lancar terkendali.

Keadaan ini membuat pemerintahan Sukarno tkdak bisa berpangku tangan menyaksikan semua aktivitas rakyat Maluku, sehingga dikeluarkanlah perintah untuk menangkap seluruh pimpinan dengan semua jajarannya, sehingga pada akhirnya dinyatakanlah bahwa Pemerintah RMS yang berada di Belanda sebagai Pemerintah RMS dalam pengasingan Dengan bekal dokumentasi dan bukti perjuangan RMS, para pendukung RMS membentuk apa yang disebut Pemerintahan RMS di pengasingan.

Pemerintah Belanda mendukung kemerdekaan RMS, Namun di tahun 1978 terjadi peristiwa Wassenaar, dimana beberapa elemen pemerintahan RMS melakukan serangan kepada Pemerintah Belanda sebagai protes terhadap kebijakan Pemerintah Belanda.

Oleh Press di Belanda dikatakanlah peristiwa itu sebagai teror yang dilakukan para aktifis RMS di Belanda. Ada yang mengatakan serangan ini disebabkan karena pemerintah Belanda menarik dukungan mereka terhadap RMS.

Ada lagi yang menyatakan serangan teror ini dilakukan karena pendukung RMS frustasi, karena Belanda tidak dengan sepenuh hati memberikan dukungan sejak mula. Di antara kegiatan yang di lansir Press Belanda sabagai teror, adalah ketika di tahun 1978 kelompok RMS menyandera 70 warga sipil di gedung pemerintah Belanda di Assen-Wassenaar.

Selama tahun 70an, teror seperti ini dilakukan juga oleh beberapa kelompok sempalan RMS, seperti kelompok Komando Bunuh Diri Maluku Selatan yang dipercaya merupakan nama lain (atau setidaknya sekutu dekat) Pemuda Maluku Selatan Merdeka. Kelompok ini merebut sebuah kereta api dan menyandera 38 penumpangnya di tahun 1975.

Ada juga kelompok sempalan yang tidak dikenal yang pada tahun 1977 menyandera 100 orang di sebuah sekolah dan di saat yang sama juga menyandera 50 orang di sebuah kereta api.

sumber
Publisher: Unknown - 07.51
, , , , , , ,

Lagu kebangsaan Negara Republik Maluku Selatan (RMS)

Oh Maluku, Tanah Airku,

Tanah tumpah darahku.
Ku berbakti padamu
Slama hari hidupku.
Engkaulah pusaka raya
Yang leluhur dan teguh.
Aku junjung selamanya
Hingga sampai ajalku.
Aku ingat terlebih
Sejarahmu yang pedih.
Oh Maluku, tanah airku,
Tanah datuk-datukku.
Atas via dolorosa
Engkau hidup merdeka.
Putra-putri yang sejati
Tumpah darah bagimu.
Ku bersumpah trus berbakti
Serta tanggung nasibmu.
Aku lindung terlebih
Sejarahmu yang pedih.
Mena-Muria, printah leluhur
Segenap jiwaku seru.
Bersegralah membelamu
Seperti laskar yang jujur.
Dengan prisai dan imanku
Behkan harap yang teguh.
Ku berkurban dan berasa
Karena dikaa ibuku
Ku doakan terlebih
Mena-Muria, hiduplah!
Publisher: Unknown - 00.15
, , , , , , , , ,

Sejarah Terbentuknya Republik Maluku Selatan RMS

Sejarah Terbentuknya Republik Maluku Selatan RMS

Sejarah Terbentuknya Republik Maluku Selatan RMS
 

Republik Maluku Selatan (RMS) adalah daerah yang diproklamasikan merdeka pada 25 April 1950 dengan maksud untuk memisahkan diri dari Negara Indonesia Timur (saat itu Indonesia masih berupa Republik Indonesia Serikat). Namun oleh Pemerintah Pusat, RMS dianggap sebagai pemberontakan dan setelah misi damai gagal, maka RMS ditumpas tuntas pada November 1950. Sejak 1966 RMS berfungsi sebagai pemerintahan di pengasingan, Belanda.

Pada 25 April 1950 RMS hampir/nyaris diproklamasikan oleh orang-orang bekas prajurit KNIL dan pro-Belanda yang diantaranya adalah Chr. Soumokil bekas jaksa agung Negara Indonesia Timur yang kemudian ditunjuk sebagai Presiden, Ir. J.A. Manusama dan J.H. Manuhutu.

Pemerintah Pusat yang mencoba menyelesaikan secara damai, mengirim tim yang diketuai Dr. Leimena sebagai misi perdamaian ke Ambon. Tapi kemudian, misi yang terdiri dari para politikus, pendeta, dokter dan wartawan, gagal dan pemerintah pusat memutuskan untuk menumpas RMS, lewat kekuatan senjata. Dibentuklah pasukan di bawah pimpinan Kolonel A.A Kawilarang.

Pada 14 Juli 1950 Pasukan ekspedisi APRIS/TNI mulai menumpas pos-pos penting RMS. Sementara, RMS yang memusatkan kekuatannya di Pulau Seram dan Ambon, juga menguasai perairan laut Maluku Tengah, memblokade dan menghancurkan kapal-kapal pemerintah.

Pemberontakan ini berhasil digagalkan secara tuntas pada bulan November 1950, sementara para pemimpin RMS mengasingkan diri ke Belanda. Pada 1951 sekitar 4.000 orang Maluku Selatan, tentara KNIL beserta keluarganya (jumlah keseluruhannya sekitar 12.500 orang), mengungsi ke Belanda, yang saat itu diyakini hanya untuk sementara saja.

RMS di Belanda lalu menjadi pemerintahan di pengasingan. Pada 29 Juni 2007 beberapa pemuda Maluku mengibarkan bendera RMS di hadapan Presiden Susilo Bambang Yudhono pada hari keluarga nasional di Ambon. Pada 24 April 2008 John Watilette perdana menteri pemerintahan RMS di pengasingan Belanda berpendapat bahwa mendirikan republik merupakan sebuah mimpi di siang hari bolong dalam peringatan 58 tahun proklamasi kemerdekaan RMS yang dimuat pada harian Algemeen Dagblad yang menurunkan tulisan tentang antipati terhadap Jakarta menguat.

Tujuan politik RMS sudah berlalu seiring dengan melemahnya keingingan memperjuangkan RMS ditambah tidak adanya donatur yang bersedia menyisihkan dananya, kini hubungan dengan Maluku hanya menyangkut soal sosial ekonomi. Perdana menteri RMS(bermimpi) tidak menutup kemungkinan Maluku akan menjadi daerah otonomi seperti Aceh Kendati tetap menekankan tujuan utama adalah meraih kemerdekaan penuh

Pemimpin pertama RMS
Pemimpin pertama RMS dalam pengasingan di Belanda adalah Prof. Johan Manusama, pemimpin kedua Frans Tutuhatunewa turun pada tanggal 25 april 2009. Kini John Wattilete adalah pemimpin RMS pengasingan di Belanda.

Dr. Soumokil mengasingkan diri ke Pulau Seram. Ia ditangkap di Seram pada 2 Desember 1962, dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan militer, dan dilaksanakan di Kepulauan Seribu, Jakarta, pada 12 April 1966.

RMS di dukung belanda
Oleh karena kemerdekaan RMS yang di Proklamirkan oleh sebagian besar rakyat Maluku, pada tanggal 24 April 1950 di kota Ambon, ditentang oleh Pemerintah RI dibawah pimpinan Sukarno - Hatta, maka Pemerintah RI meng-ultimatum semua para aktifis RMS yang memproklamirkan berdirinya Republik Maluku Selatan untuk menyerahkan diri kepadda pemerintah RI, sehingga semua aktifis RMS itu ditangkapi oleh Pasukan2 Militer yang dikirim dari Pulau Jawa.

Karena adanya penangkapan yang dilakukan oleh militer Pemerintah RI, maka para pimpinan teras RMS tersebut, ber-inisiatif untuk menghindar sementara ke Negeri Belanda, kepindahan para pimpinan RMS ini mendapat bantuan sepenuhnya dari Pemerintah Belanda pada saat itu. Dengan adanya kesediaan bantuan dari Pemerintah Belanda untuk mengangkut sebagian besar rakyat Maluku dengan biaya sepenuhnya dari Pemerintah Belanda, maka sebagian besar rakyat di Maluku yang beragama kristen, memilih dengan kehendaknya sendiri untuk pindah ke Negeri Belanda. Pada waktu itu, Ada lebih dari 15.000 rakyat Maluku yang memilih pindah ke negeri Belanda.

Pindahnya sebagian rakyat maluku ini, oleh Pemerintahan Sukarno-Hatta, diissukan sebagai "PENGUNGSIAN PARA PENDUKUNG RMS", lalu dengan dalih pemberontakan, pemerintah RI menangkapi para Menteri RMS dan para aktifisnya, lalu mereka dipanjarakan dan diadili oleh pengadilan militer RI, dengan hukuman berat bahkan dieksekusi Mati.

Di Belanda, Pemerintah RMS tetap menjalankan semua kebijakan Pemerintahan, seperti Sosial, Politik, Keamanan dan Luar Negeri. Komunikasi antara Pemerintah RMS di Belanda dengan para Menteri dan para Birokrat di Ambon berjalan lancar terkendali. Keadaan ini membuat pemerintahan Sukarno tkdak bisa berpangku tangan menyaksikan semua aktivitas rakyat Maluku, sehingga dikeluarkanlah perintah untuk menangkap seluruh pimpinan dengan semua jajarannya, sehingga pada akhirnya dinyatakanlah bahwa Pemerintah RMS yang berada di Belanda sebagai Pemerintah RMS dalam pengasingan Dengan bekal dokumentasi dan bukti perjuangan RMS, para pendukung RMS membentuk apa yang disebut Pemerintahan RMS di pengasingan.

Pemerintah Belanda mendukung kemerdekaan RMS, Namun di tahun 1978 terjadi peristiwa Wassenaar, dimana beberapa elemen pemerintahan RMS melakukan serangan kepada Pemerintah Belanda sebagai protes terhadap kebijakan Pemerintah Belanda. Oleh Press di Belanda dikatakanlah peristiwa itu sebagai teror yang dilakukan para aktifis RMS di Belanda. Ada yang mengatakan serangan ini disebabkan karena pemerintah Belanda menarik dukungan mereka terhadap RMS. Ada lagi yang menyatakan serangan teror ini dilakukan karena pendukung RMS frustasi, karena Belanda tidak dengan sepenuh hati memberikan dukungan sejak mula. Di antara kegiatan yang di lansir Press Belanda sabagai teror, adalah ketika di tahun 1978 kelompok RMS menyandera 70 warga sipil di gedung pemerintah Belanda di Assen-Wassenaar.

Selama tahun 70an, teror seperti ini dilakukan juga oleh beberapa kelompok sempalan RMS, seperti kelompok Komando Bunuh Diri Maluku Selatan yang dipercaya merupakan nama lain (atau setidaknya sekutu dekat) Pemuda Maluku Selatan Merdeka. Kelompok ini merebut sebuah kereta api dan menyandera 38 penumpangnya di tahun 1975. Ada juga kelompok sempalan yang tidak dikenal yang pada tahun 1977 menyandera 100 orang di sebuah sekolah dan di saat yang sama juga menyandera 50 orang di sebuah kereta api.
Publisher: Unknown - 00.04
, , , , , , , , , ,

Flores Merdeka, Hidup Atau Mati !

Flores Merdeka, Hidup Atau Mati !

FLORES MERDEKA! YA FLORES HARUS MEDEKA! HIDUP ATAU MATI!

KENAPA???????????

ITU KALAU KITA SAYANG ANAK CUCU KITA.

,,,,,,,,,,,,,HARI GINI DI ANTARA KITA MASIH ADA YANG MISKIN? KARENA APA? PEJABAT KITA KORUP. HUKUM KITA LEMAH. MAKA KITA HARUS BERGERAK. BERGERAK DEMI KEBAIKAN KITA BERSAMA.

PENYAKIT UTAMA DI NEGERI KITA INI ADALAH KORUPSI.

PEJABAT PUNYA RUMAH BAGUS??????? ITU KARENA KORUPSI!

PEJABAT PUNYA MOBIL BARU?????????????  ITU KARENA CURI UANG RAKYAT!

ISTRI ANAKNYA MENJADI SOMBONG HIDUP MEWAH??????? ITU KARENA SUAMI ATAU BAPAKNYA KORUPSI!

KELOMPOK BIADAP YANG INI MESTI DIHABISI. KITA TIDAK BISA HANYA BERGANTUNG  PADA SBY SEORANG. DIA MANUSIA. DIA JUGA PUNYA KETERBATASAN. KARENA ITU KITA MESTI AMBIL PERAN. PERANGI KELOMPOK TIKUS ITU.

MERDEKAKAN DIRI KITA DENGAN SEMANGAT DAN TINDAKAN MEMERANGI KORUPSI, KOLUSI DAN NEPOTISME.

JIKA SEMANGAT INI MULAI KITA GALAKAN? MAKA YAKINLAH TUHAN AKAN BERSAMA KITA.

MARI KITA HIDUP MENEBAR BENIH KEBAIKAN DAN  MATI MENINGGALKAN KEMERDEKAAN YANG UTUH BAGI GEREASI PENERUS KITA.

 FLORES BEBAS DARI KKN !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Publisher: Unknown - 01.54
, , , , , , , , , , , , , ,

NEGARA-NEGARA MELANESIA GALANG DUKUNGAN UNTUK KEMBALIKAN KEBEBASAN PAPUA BARAT



Penulis :
-Wandikbonak
Melanesia Countries
 

Jayapura, 18/3 (Jubi-NewMatilda)-Pemimpin Papua Nugini dan negara Melanesia lainnya menunjukkan dukungan mereka untuk pembebasan Papua Barat. Bob Carr bergerak melawan arus regional, tulis Airileke Ingram dan Jason MacLeod
Dukungan Melanesia untuk Pembebasan Papua Barat selalu tinggi. Berjalan di seluruh Papua Nugini Anda akan sering mendengar orang berkata bahwa Papua Barat dan Papua Nugini adalah “Wanpela Graun” – satu tanah – dan bahwa Papua Barat di sisi lain perbatasan adalah keluarga dan kerabat.
Di Kepulauan Solomon, Kanaky, Vanuatu dan Fiji orang akan memberitahu Anda bahwa “Melanesia belum bebas sampai Papua Barat bebas”. Masyarakat di bagian Pasifik ini sangat menyadari bahwa orang Papua Barat terus hidup di bawah ancaman senjata.
Kemungkinan Perubahan.
Rabu terakhir 6 Maret 2013, Powes Parkop, Gubernur Distrik Ibu Kota Nasional, Papua Nugini menancapkan “warna” nya tegas ke “tiang”. Di depan kerumunan 3000 orang Gubernur Parkop menegaskan bahwa “tidak ada pembenaran, sejarah hukum, agama, atau moral bagi pendudukan Indonesia di Papua Barat”.
Menyambut pemimpin Papua, Benny Wenda, yang berada di Papua New Guinea sebagai bagian dari tur global, Gubernur mengatakan bahwa saat Wenda berada di Papua New Guinea, “tidak ada yang akan menangkapnya, tidak ada yang akan menghentikannya, dan ia dapat merasa bebas untuk mengatakan apa yang ingin ia katakan. ” Ini merupakan hak dasar yang ditolak di Papua Barat, yang terus menerus ditangkap, disiksa dan dibunuh hanya karena warna kulit mereka.
Gubernur Parkop, yang merupakan anggota dari Parlemen Internasional untuk Papua Barat, yang kini memiliki perwakilan di 56 negara, melanjutkan kegiatannya dengan meluncurkan kampanye Pembebasan Papua Barat. Dia berjanji untuk membuka kantor, mengibarkan bendera Bintang Kejora dari City Hall dan menjanjikan dukungannya untuk tur musisi Melanesia untuk Pembebasan Papua Barat.
Gubernur Parkop Tak Lagi Sendirian di Melanesia Menyerukan Perubahan.
Tahun lalu Perdana Menteri Papua Nugini, Peter O’Neil “merusak” tradisi hubungan dengan Indonesia setelah mengingatkan publik dengan memberikan respon terhadap Pemerintah Indonesia atas kekerasan negara yang sedang berlangsung, pelanggaran hak asasi manusia dan kegagalan pemerintahan. Tergerak oleh 4000 perempuan dari Gereja Lutheran, O’Neill mengatakan kekhawatirannya tentang HAM terhadap pemerintah Indonesia.
Sekarang Gubernur Parkop ingin menemani Perdana Menteri dalam kunjungan ke Indonesia untuk mempresentasikan gagasannya kepada Indonesia tentang cara memecahkan konflik Papua Barat sekali dan untuk semua.
Komentator terkenal PNG, Emmanuel Narakobi berkomentar di blog-nya tentang usulan pendekatan multi-cabang dari Parkop, bagaimana memobilisasi opini publik di PNG tentang Papua Barat. “Mungkin adalah pertama kalinya saya mendengar rencana yang sebenarnya tentang bagaimana mengatasi masalah ini (Papua Barat)”. Melalui radio Gubernur Parkop menuduh Menteri Luar Negeri Australia Bob Carr tidak serius menangani isu Papua Barat, melainkan “membersihkannya di bawah karpet.”
Di Vanuatu, partai-partai oposisi, Malvatumari Nasional Dewan Chiefs dan uskup Anglikan dari Vanuatu serta Pendeta James Ligo mendesak pemerintah Vanuatu untuk mengubah posisi mereka terhadap isu Papua Barat. Ligo baru-baru ini berada di Sidang Dewan Gereja Pasifik di Honiara, Kepulauan Solomon, yang mengeluarkan sebuah resolusi mendesak Dewan Gereja Dunia untuk menekan PBB untuk mengirim tim pemantau ke wilayah Papua Indonesia.
“Kita tahu bahwa Vanuatu telah mengambil sisi-langkah itu (masalah Papua Barat) dan kita tahu bahwa pemerintah kita mendukung status pengamat di Indonesia pada MSG (Melanesian Spearhead Group), kita tahu itu. Tapi sekali lagi, kami juga percaya bahwa sebagai gereja kami memiliki hak untuk mengadvokasi dan terus mengingatkan negara-negara dan para pemimpin kita untuk khawatir tentang saudara-saudara Papua Barat kami yang menderita setiap hari.” kata Ligo.
Masyarakat Papua Barat juga mengorganisir diri mereka, bukan hanya di dalam negeri di mana kemarahan moral terhadap kekerasan negara Indonesia yang sedang berlangsung, tetapi juga di regional. Sebelum kunjungan Benny Wenda ke Papua Nugini, perwakilan Koalisi Nasional Papua Barat untuk Kemerdekaan yang berbasis di Vanuatu resmi diajukan untuk mendapatkan status pengamat di MSG dalam pertemuan MSG tahun ini yang dijadwalkan akan digelar di New Kaledonia pada bulan Juni. New Caledonia, tentu saja, adalah rumah lain dari perjalanan panjang perjuangan penentuan nasib sendiri bangsa-bangsa Melanesia. Di Vanuatu Benny Wenda menambahkan dukungan untuk langkah tersebut, dengan menyerukan pada organisasi perlawanan Papua yang berbeda untuk mendukung “agenda bersama untuk kebebasan”. Sebuah keputusan tentang apakah Papua Barat akan diberikan status pengamat pada pertemuan MSG tahun ini akan dilakukan secepatnya.
Di Australia Bob Carr mungkin mencoba untuk meredam semakin besarnya dukungan publik untuk Pembebasan Papua Barat tapi di Melanesia arus bergerak ke arah yang berlawanan.*
Publisher: MELANESIA POST - 11.28
, , , , , , , , , , ,

Inilah Penghargaan bagi Suku Bangsa Melanesia di Indonesia

Inilah Penghargaan bagi Suku Bangsa Melanesia di Indonesia



13733456651258026482
West Melanesia United



Pandangan sementara pihak bahwa etnis Melanesia di Indonesia hanya sebagai pelengkap penderita yang tergilas jaman, hanyalah isapan jempol belaka. Karena memang faktanya tidaklah demikian. Indonesia adalah sebuah negeri yang terbuka bagi semua suku dan golongan dan suku untuk bersaing meraih kemajuan. Pemerintah –yang juga direkrut dari berbagai suku dan golongan- hanyalah fasilitator dan regulator agar persaingan meraih kemakmuran itu tidak mengarah kepada homo homini lupus.

Menurut sensus penduduk Tahun 2010, di Indonesia terdapat sekitar 11 juta penduduk dari rumpun bangsa Melanesia. Mereka menghuni hampir 1/3 wilayah Indonesia, yaitu di Provinsi Papua, Papua Barat, Maluku Utara, dan Nusa Tenggara Timur. Itulah pernyataan Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia, Wisnuwardhana dalam sesi pleno Melanesia Spearhead Group (MSG) Summit di Noumea, New Caledonia, 21/06/2013. Pernyataan itu disampaikan untuk mempererat hubungan Indonesia dengan MSG. 

Pernyataan itu juga untuk menampik kampanye hitam yang dikembangkan kelompok-kelompok politik tertentu di luar maupun di dalam negeri tentang adanya genosida (pemusnahan etnis) Melanesia yang katanya telah berlangsung sistematis di Papua dan Papua Barat sehingga memicu gerakan separatisme di wilayah itu.
13733558841928432231
West Melanesia United
sebagian warga Papua yang tinggal di DKI Jakarta (Foto: Tempo.co)
Karenanya, delegasi Indonesia dalam MSG Summit yang dipimpin Wisnuwardhana itu mempersilahkan para Menteri Luar Negeri negara-negara MSG (PNG, Vanuatu, Fiji, New Caledonia dan Salomom Island) untuk datang ke Indonesia.

“Untuk memperkuat hubungan Indonesia dengan MSG, Indonesia mempersilahkan para Menteri Luar negeri MSG datang ke Indonesia. Untuk bertukar pengalaman dan memberikan kesempatan untuk melihat dan memahami dengan baik tentang pembangunan di Indonesia, termasuk Papua dan papua Barat.” kata Wisnuwardhana sebagaimana dikutip salah satu media lokal Papua, tabloidjubi.com.

US$ 60 Milyar untuk Papua dan Maluku

Menurut Wisnuwardhana hingga saat ini, Indonesia telah mengalokasikan sekitar US$ 60 M di provinsi Papua, Papua Barat dan Maluku untuk pembangunan koridor ekonomi yang nantinya akan memperkuat relasi ekonomi antara Indonesia dan MSG serta negara-negara anggotanya. Dan untuk dua provinsi di ujung timur Indonesia, yakni Papua dan Papua Barat, selama implementasi Otonomi Khusus, telah dialokasikan dana pembangunan sebesar 48 Triliun Rupiah. Pengalokasian ini, untuk meningkatkan kesejahteraan dan pembangunan ekonomi, infrastruktur dan sumberdaya manusia di dua provinsi tersebut.

Wakil Menteri Luar Negeri ini juga menyebutkan bahwa saat ini, 98 persen pejabat pemerintah di Papua dan Papua Barat adalah Orang Asli Papua. Bahkan, dalam UU Otonomi Khusus, secara tegas mengatur bahwa hanya Orang Asli Papua saja yang bisa dipilih sebagai Gubernur di dua provinsi paling timur Indonesia ini.

“Untuk mempromosikan dan melindungi identitas Papua, kami punya regulasi yang mengatur hanya Orang Asli Papua saja yang bisa menjadi gubernur. Dan saat ini 98 persen pejabat pemerintah di Papua dan Papua Barat adalah orang asli Papua.” ujar Wisnuwardhana.
Apa yang disampaikan oleh delegasi Indonesia dalam Forum MSG summit beberapa waktu lalu itu, bukanlah hasil rekayasa. Karena faktanya, sudah banyak hal yang dibuat oleh Pemerintah Indonesia bersama Pemprov dan lembaga-lembaga lainnya untuk memajukan dan mensejahterakan orang Papua. Pembangunan terus dipacu, peningkatan SDM terus digenjot, keunikan budaya Papua, tradisi dan keragaman bahasa serta expresi budaya terus dijaga dan dilestarikan.

Kehadiran tokoh-tokoh Papua di jajaran Menteri dan anggota parlemen semakin banyak, demikian juga kader-kader muda di berbagai profesi di tingkat nasional, seperti pengusaha, dokter dan tenaga medis, pilot, atlit, jurnalis, komandan militer, duta besar dan masih banyak lagi.

Dengan demikian, kedatangan delegasi MSG ke Indonesia, khususnya ke Papua akan menyaksikan sendiri dari dekat bahwa apa yang disampaikan oleh delegasi Indonesia dalam sesi pleno Melanesia Spearhead Group (MSG) Summit di Noumea, New Caledonia, 21/06/2013 itu memang begitulah adanya. ***
Publisher: MELANESIA POST - 11.07